Alasan Introvert ingin Resign dari Office Modern

along with

Pernah dengar kan, istilah collaboration is the fuel of growth? Walaupun 100% benar tapi ini juga quotes yang overused paling sering diucapkan seorang extrovert untuk mematikan kreasi seorang introvert… bahkan karena quotes itu, keadaan kantor dimana-mana sekarang ini disulap menjadi lebih mirip seperti kampus yang relax dengan banyak tempat brainstorming yang dilengkapi whiteboard dan post it.

Movement ini nyatanya walaupun marak diadopsi di Indonesia dan luar negeri, tapi menurut riset psikologi efeknya bagi kolaborasi malah negatif lohhh..kok bisa? kali ini akan dijelaskan kenapa hal itu bisa terjadi dan sebaiknya apa yang harus kita lakukan untuk memperbaikinya

kita bakal ngomongin tentang kegelisahan seorang introvert di tempat kerjanya.. Mungkin ini juga yang lagi dirasain sama teman intropreneur juga sekarang? Yang bisa dibilang obsesif pada culture kolaborasi yang malah bikin tim mati ide dan kreasi…

Kenapa? Karena culture yang over collab itu sangat pro extrovert dan ibaratnya anda punya otak kanan dan kiri, ngak mau kan hidup dengan menggunakan satu sisi otak saja…

Nah ideal lingkungan kerja dapat mengakomodasi kedua personality baik yang introvert maupun extrovert…Terutama buat para teman intropreneur yang bekerja di HR atau mau bikin bisnis , wajib dengerin ya supaya dapet insight yang bagus gimana nanti untuk ngatur sistem kerja di kantornya!

Kantor modern yang justru membuat tak nyaman

Pernah berpikir gak bahwa suasana kerja modern yang lagi trend saat ini itu ternyata cukup bikin banyak introvert lebih memilih keluar kerja dan memulai bisnis sendiri atau freelance? Bahkan fenomena ini dibahas secara mendalam didalam sebuah buku Quite, the power of introvert yang membahas fenomena yang disebut the new way of groupthink saat kreativitas dan produktivitas terlahir dari tempat bising.

Simpelnya adalah keadaan di kantor sekarang disetup untuk mengambil keputusan, brainstorm dan problem solve berbasis pada kelompok alias keroyokan.

Nah, menurut ilmu psikologi justru fenomena over kolaborasi ini sangat disukai seorang extrovert, tapi secara tak sadar memiliki efek yang berlawanan pada seorang introvert mulai dari mematikan potensi kreatif, mematikan tim yang sehat atau balance, dan bahkan lingkungan yang gak introvert-friendly itu malah membuat introvert tertekan sampai kebawa pikiran buat resign. 

Bahaya juga ya… nah makanya, yuk kita intip apa saja kesalahan umum kantor di zaman sekarang ini yang membuat introvert jadi dikerdilkan performancenya oleh situasi yang bisa jadi anda bantu setting. 

Nah berikut ini 4 Kesalahan kantor modern yang Mematikan potensi berprestasi Seorang Introvert

1. Konsep Open office yang jadi standard kantor modern membombardir introvert dengan kebisingan dan distraksi

Kemunculan tren baru yaitu konsep open office yang lebih terbuka ini memang sengaja dirancang untuk menciptakan sistem yang bernuansa kekeluargaan dan komunitas yang erat.

Tapi yang seringkali tidak disadari adalah, bahwa bahkan se-extrovert apapun karyawan, mereka butuh ruang privasi apalagi introvert.

Seorang introvert akan bisa sangat dipastikan kehilangan produktivitasnya ketika dipaksa secara keadaan harus terus berada dalam sebuah grup sebab mereka butuh waktu tenang untuk merecharge energi. Dan perbedaan utama dari extrovert adalah justru untuk bekerja secara maksimal, introvert butuh escape dari orang banyak!

Bahkan menurut riset baru-baru ini, kantor dengan konsep open plan yang adalah surga bagi para extrovert ini ternyata tak berakhir pada kolaborasi yang meningkat yang berbuah pada hasil yang cukup significant berbeda.

Didalam riset itu malah ditemukan bahwa faktanya, konsep open office tidak membuat karyawan betul-betul kolaboratif karena suara bising diruang terbuka malah membuat kebanyakan karyawan memilih bekerja dengan headphones dan kurangnya privasi malah membuat banyak karyawan mondar mandir ke kamar mandi atau kafe dan kalau bisa meeting diluar. 

Bahkan ada fakta bahwa orang dengan suara dominan akan menjadi lebih didengar, tetapi yang lainnya mengalami perasaan bahwa orang lain selalu mengamati membuat mereka malah memilih berkomunikasi melalui chat dibanding langsung tanya karena keadaan yang terlalu “terexpose”.

2. Culture Over kolaborasi

Konsep tentang “tim” telah berubah belakangan ini. Dulunya, tim digunakan untuk menggambarkan para individu yang bertanggung jawab untuk sebuah tugas, dan sekarang maknanya bergeser menjadi kumpulan individu yang harus berkumpul terus menerus setiap ada masalah muncul untuk memecahkan masalah.

Secara teori, hal tersebut tidaklah salah terutama untuk berbagi beban pekerjaan dengan berbagai macam perspektif. Tapi di sisi lain, munculah sebutan “groupthink”.

Groupthink adalah proses pengambilan keputusan berdasarkan kelompok yang malah menghambat independensi seorang individu dalam berpikir dan berkreasi.

Sebab groupthink dapat memecahkan masalah secara cepat dengan kombinasi pemikiran yang dimiliki secara kolektif, namun “berpikir” itu lebih jernih jika dilakukan sebelum bertemu. Ini sebabnya, terlalu banyak groupthink justru membuat solusi ya hanya itu-itu aja..

Berpikir secara independent juga sangat berguna untuk membuat waktu di dalam grup menjadi lebih efisien dan ide lebih fresh ketika berkumpul bersama. Terlalu banyak berkumpul malah akan mematikan kreatifitas seorang introvert dan juga extrovert apalagi khusus untuk seorang Introvert, mereka butuh waktu untuk bisa bebas berpikir sejenak sendirian sebelum berkumpul dengan kelompoknya untuk menghasilkan ide yang baru

3. Ekspektasi untuk bersosialisasi

Sadar ngak sih kalau di Kantor, ke manapun kita jalan, dari toilet sampai ke lift isinya ya banyak dia lagi dia lagi dan ga mungkin jalan tanpa “bersosialisasi”. Cukup sulit juga lo menemukan tempat di mana anda bisa benar-benar punya waktu untuk diri anda sendiri. 

Bahkan ini real fakta riset, saking sulitnya nemu tempat untuk recharge, introvert lebih memilih ke toilet lohh.. Atau yang juga sering ditemukan adalah introvert yang selalu terlihat membawa botol air minum sendiri dari rumah yang cukup besar agar tak bolak balik ngambil air dan menghabiskan energi dengan chit chat.

Apalagi setelah meeting yang sering dan settingan kantor open office.. Bisa dipastikan introvert suka makan siang sendirian dan bahkan ngak jarang, mereka bisa menemukan sebuah ruangan yang tenang dikantor bagi mereka sendiri selama istirahat siang seperti misalnya loker room. 

Tapi sekali lagi, semua itu bukan menunjukan bahwa introvert tidak peduli kepada orang lain, ataupun anti sosial. Mereka tetap membangun relasi dengan rekan kerja hanya saja keadaan yang over collaboration itu membuat seorang introvert yang butuh mengistirahatkan sensor mereka dari komunikasi yang dilakukan secara konstan terus menerus menjadi sangat sulit dilakukan.

Jadi jelas ya kenapa saat ini sosok leader itu role modelnya adalah seorang extrovert sebab keadaan dikantor tak didesign untuk introvert untuk berkembang kecuali ia sanggup melewati tantangan – tantangan tadi yang artinya effortnya 2 kali lebih besar untuk menjadi seorang leader. Jadi semua pilihan ada ditangan anda