BUKU TENTANG HAL-HAL YANG MENYENANGKAN

Nikmatilah hal-hal kecil, karena suatu hari kau mungkin mengenangnya dan menyadari bahwa semua itu merupakan hal-hal besar.

ROBERT BRAULT

Kuliah: masa-masa terbaik, masa-masa terburuk. Paling tidak begitulah bagiku. Di masa-masa terbaik aku bisa menerima pengalaman-pengalaman baru, menggali ilmu-ilmu baru, dan menikmati teman-teman baruku. Pada masa-masa terburuk aku bingung tentang apa yang ingin kupelajari dan akan ke manakah hidupku ini. Aku sudah pernah berpindah jurusan dan kembali berpikir untuk pindah lagi.

Lalu datanglah semester kedua tahun kedua kuliahku. Aku memutuskan tidak mengambil semester itu karena aku akan kuliah di luar negeri selama musim panas dan mendapatkan kredit satu semester penuh karenanya.

Jadi, aku pun menuju ke Washington, D.C. dan tinggal dengan dua temanku yang menghabiskan semester dengan bekerja magang. Pengalaman hidup sendirian, mendapatkan uang untuk sewa tempat tinggal dan makan, dan juga bersenang-senang merupakan pengalaman positif yang membuka mataku. Aku baru tahu bahwa  aku suka tinggal di kota—menyukai kejutan-kejutan hidup di perkotaan.

Kegembiraan itu mendorongku untuk mencurahkan pengalamanku itu ke dalam tulisan. Aku mulai mengisi “Buku Tentang Berbagai Hal yang Menyenangkan.” Kubeli sebuah buku catatan kecil dan terus kubuat daftar tentang apa yang membuatku senang. Apa pun bisa masuk ke dalam daftarku: cowok yang menyanyi di halte metro, sandal warna merah Dorothy di museum Smithsonian, berbagai hal lucu yang kudengar di dalam bus, salad yang kusantap ketika makan siang. Semua ada di situ.

Berbulan-bulan kemudian ketika aku kembali kuliah setelah menjalani musim panas di luar negeri, aku mengalami masa-masa terburuk: depresi berat. Tetapi. Aku tidak tahu apa yang sedang kualami itu. Aku menangis sepanjang waktu, dan merasa benar-benar buntu. Aku merasa tidak betah kuliah di pinggiran kota Chicago itu lagi, tetapi aku tidak bisa mengakui itu kepada diriku sendiri atau siapa pun.

Buku tentang Berbagai Keindahan-lah itu yang memberiku semangat yang kubutuhkan untuk membuat perubahan. Sambil membalik-balik halaman demi halaman tentang hal-hal yang menyenangkanku, aku menyadari apa saja yang kusukai di D.C. dan aku mulai melihat sesuatu yang dulu senang kulakukan adalah mengungkapkan perasaanku di atas kertas.

Kini aku merenungkan apa yang akan terjadi padaku tanpa “Buku Tentang Berbagai Hal yang Menyenangkan” ini, yang masih tersimpan di gudangku dalam kotak berlabel “Kuliah.” Dengan menyimpan momen-momen menyenangkan secara acak—potret-potret perkotaan yang membuat hatiku begitu senang itu—telah membantuku melihat siapa diriku dan di mana aku seharusnya berda. Aku pindah ke Washington D.C. dan kuliah di American University dan aku mengubah jurusanku jurusan komunikasi. Sejak saat itu, kebingungan dan depresiku telah lenyap dan aku tahu bahwa aku sudah pada jalur yang benar. Sungguh menakjubkan rasanya ketika kita menyadari ke mana rasa syukur terhadap hal-hal yang kecil itu bisa mengarahkan kita.