Cara Pebisnis Pemula Bersaing Dengan Perusahaan Yang Sudah Besar

Apa anda setuju dengan sebuah quote bahwa everything hard before its’ easy? Atau semua hal itu sulit sebelum jadi mudah, setuju ya? Apalagi jika sebagai pebisnis pemula, pastinya di awal akan jauh lebih sulit.

Sebagai pebisnis pemula, anda harus bersaing dengan perusahaan besar yang jika dibayangkan saja begitu mengintimidasi. 

Belum percaya kalau mereka mendominasi? Coba saja ketik keyword apapun di Google di usaha atau industri yang ingin teman pebisnis buat disana, para perusahaan besar tersebut saya yakin telah menguasai hampir semua keyword yang bisa mengarahkan pencarian ke artikel, konten, atau web mereka yang bisa jadi lokasi mereka di search engine itu ada di posisi yang teratas. 

Alasannya adalah karena roda bisnis mereka yang telah berjalan lama memungkinkan mereka untuk punya budget tak terbatas untuk Ads. Sementara mungkin kita masih susah payah mencari 100 followers pertama di instagram. Seakan masih jauh hingga sampai ke level mereka. 

Saya ingin memberikan sebuah fakta yang sudah teruji kebenarannya. Sebetulnya, perusahaan yang mapan itu tidaklah semapan yang terlihat. Kok bisa?

Marketing budget besar dan campaign cantik belum tentu yang terbaik. Bahkan perusahaan besar juga punya kelemahan dalam strategi marketing mereka. 

Semakin besar suatu bisnis, maka semakin besar pula kelemahan yang bisa kita pelajari. Hanya saja, memang kita harus tahu di mana mencari kelemahannya dan memanfaatkan kelemahan tersebut agar kita bisa membuka peluang baru untuk merebut pengaruhnya dalam pasar.

Sun Tzu seorang filsuf dan konselor perang penulis the art of war pernah berkata bahwa.. If you know the enemy and know yourself you need not fear the result of a hundred battles..

Artinya jika anda tahu kekuatan dan kelemahan dari diri anda dan dari saingan anda, tak perlu takut sebesar apapun dia, anda akan menang bahkan di 1000 pertempuran.

Dengan demikian, langkah pertama untuk bisa bersaing dengan perusahaan besar adalah dengan mengenali apa saja kelemahannya. Lalu bagaimana caranya untuk tahu mengenai hal tersebut? Mungkin itu yang ada dibenak teman pebisnis saat ini.

Karena itu disini saya akan berikan, beberapa cara kreatif yang bisa kita lakukan untuk bersaing dengan perusahaan besar.

Yang pertama adalah dari sisi ketidakmampuan perusahaan yang telah mapan untuk melakukan trial and error seperti anda. Kenyataannya semakin besar mereka akan semakin berisiko untuk melakukan hal itu, padahal trial and error itu sangat dibutuhkan untuk tahu bagaimana cara memberikan yang terbaik bagi pelanggan.

Ketika kita melakukan kesalahan yang membuat pelanggan memberikan bad review, apa pengaruhnya untuk bisnis kita? Tidak terlalu banyak tentunya jika kita pebisnis pemula. Tapi, teman pebisnis bisa bayangkan, kalau brand sekelas Nike atau Adidas yang mendapat bad review sekali saja? Itu artinya mereka kehilangan jutaan dolar!

Mereka tidak afford to have a huge mess up! Dan Itulah keuntungan kita sebagai pebisnis pemula. Kita bisa melakukan trial and error karena bisnis kita belum terlalu mapan. Kita seolah punya kuota kesalahan yang bisa kita pergunakan tanpa harus takut kehilangan pasar.

Brand atau bisnis sebesar Nike atau Adidas dengan pelanggan mereka yang sangat banyak memiliki kemungkinan mendapat bad review lebih besar, berbeda dengan jumlah pelanggan bisnis yang baru kita buka. 1% komplain dari seluruh pelanggan Nike atau Adidas bisa mencapai jutaan orang, Sedangkan untuk kita 1% itu mungkin hanya 1 atau 2 orang atau paling banyak puluhan.

Jadi bukan berarti Adidas atau Nike itu bisnisnya buruk. Hal tersebut lumrah terjadi dalam bisnis yang sudah besar dengan jumlah customer base jutaan orang di seluruh dunia. Ini sebabnya, perusahaan besar akan lebih berhati-hati agar tidak melakukan kesalahan yang bisa menyebabkan mereka kehilangan uang lebih banyak dan reputasi mereka pun terancam.

Mereka cannot afford to trial and error seperti layaknya kita yang masih pebisnis pemula, oleh karena itu kita sebagai pebisnis pemula, memiliki kemewahan yang luar biasa untuk mencoba berbagai strategi marketing dan tidak perlu terbeban untuk tidak melakukan kesalahan. Jadi janganlah ragu untuk selalu mencoba. Gagal ya tidak apa-apa, belajar lagi dan coba lagi hingga menemukan setting yang cocok karena memang DNA pebisnis pemula itu lebih fleksibel. 

Lanjutkan terus, manfaatkan kuota kesalahan tersebut untuk mencoba berbagai pendekatan yang terbaik untuk bisnis anda. Tapi pesannya tentu jangan lupa lakukan evaluasi kalau cara yang dicoba itu dirasa kurang berhasil.  

Mendominasi Perusahaan Besar

Nah makin percaya diri ya sekarang? Percaya atau tidak Teman Pebisnis, bahwa menjadi pebisnis pemula memiliki banyak keuntungan.  

Nah berikut beberapa keuntungan yang dimiliki pebisnis pemula:

1. New is exciting. Orang selalu menyukai sesuatu yang baru. Pernah kan kita melihat orang yang tidak ingin memakai barang yang sama dengan orang kebanyakan. Setiap iklan perusahaan besar sudah pernah dilihat banyak orang, dan mereka tahu apa yang dijual oleh para perusahaan besar itu. Karena itulah, banyak orang yang mencari hal baru yang berbeda. Excited dari market inilah yang bisa kita manfaatkan sebagai pebisnis pemula.

2. Pivoting is possible. Perusahaan besar yang sudah mapan selalu terbayangi risiko untuk melalukan pivoting bisnis mereka atau merubah haluan. Merubah sesuatu yang selama ini sudah dikenal banyak orang. Ibaratnya memiliki kapal pesiar yang besar tentu akan lebih sulit merubah haluan dibandingkan sebuah high speed boat. Jadi hal tersebut tidak terlalu menjadi beban buat kita sebagai pebisnis pemula. Feel free untuk mengubah poros bisnis kita sebelum menjadi mapan.

3. There’s map. Keuntungan lainnya sebagai pebisnis pemula yang bisa dibilang agak paradoks adalah dengan existnya terlebih dulu para perusahaan besar. Kok bisa? Bukankah sebagai pelopor memang harus memulai duluan dan kita yang terlambat?

Jadi begini teman pebisnis, dengan perusahaan yang telah exist lebih dulu, kita bisa belajar hal dari mereka secara gratis. Begini, lihat, saksikan, dan identifikasi hal apa saja yang membuat mereka sukses dan apa saja kesalahan yang mereka lakukan. Banyak hal yang kita itu bisa ATM, amati tiru modifikasi.

Jika melakukan beberapa hal di atas, saya jamin bisnis anda bisa bersaing dengan para perusahaan besar di manapun dan di bidang bisnis apapun.

Lanjut ke tips berikutnya, yaitu tentang bisnis di sosial media. Untuk teman pebisnis yang seperti saya, berbisnis di dunia digital dan betul-betul menggunakan sosial media sebagai sumber pendapatan utama, silahkan simak tips berikut ini.

Leveling the Social Media Playing Field

Saat ini, berbeda dengan 10 tahun lalu, brand besar dan perusahaan besar sudah sadar bahwa sosial media itu juga bisa menjadi business media alias lahan mereka untuk berpromosi dan bahkan ada beberapa brand besar yang secara full gear, shifting ke promosi di sosial media.

Mereka tentu, jika dibandingkan kita pebisnis pemula, punya dana yang tak terbatas untuk membuat campaign yang menarik. Contoh mudahnya seperti ini, di saat kita baru mulai membangun akun instagram susah payah hingga punya 200 followers, mungkin mereka sudah punya 100K followers dengan cepat karena sering promosi berbayar ke artis, selebgram dan iklan. Lantas, bagaimana cara kita bersaing dengan mereka?

Nah tapi teman-teman, Inilah keuntungannya! Umumnya jumlah followers yang banyak tidak berbanding lurus dengan angka engagement. Bisnis kita yang baru memiliki sedikit followers akan lebih mudah mendapat angka engagement yang tinggi. Kenapa? Karena brand besar memiliki target pelanggan yang luas sehingga mereka tak bisa melakukan interaksi mendalam seperti pebisnis pemula dengan brand kecil.

Jadi apa yang harus kita lakukan? Kita wajib fokus membuat konten yang bisa menghasilkan engagement yang tinggi dari para followers kita. Betul-betul engage tak hanya membuat konten baik saja, tapi secara sadar dan rutin mencari siapa saja orang yang selalu update dan terdepan dalam memakai suatu produk terbaru, kemudian melakukan pendekatan personal dengan mereka. Like dan komen dipost mereka, kenapa? Karena mereka adalah early adopters! 

Berinteraksi dengan Early Adopters

Early adopters adalah individu atau bisnis yang selalu menggunakan produk atau teknologi terbaru sebelum orang lain. Nah mereka ini berbeda dari orang kebanyakan, sebab para early adopters sangat termotivasi untuk menggunakan apa saja yang merupakan inovasi terbaru bahkan mereka bersedia membayarnya. Orang-orang ini senang berburu hal yang baru  untuk merekomendasikannya ke teman-teman mereka. Disini kita akan mendapat promosi gratis! Dan jika kita bisa menemukan mereka, mereka akan lebih senang untuk membeli produk dari bisnis kita dibanding produk mainstream dari perusahaan besar.

Pertanyaannya, kira-kira bagaimana ya, cara menemukan mereka?

Berikut ada tiga cara menemukan early edopters menggunakan social media:

1. Engage di social groups: mereka selalu berkumpul di group atau komunitas dimana metode marketing ini jarang digunakan perusahaan besar. Early adopter ada dalam sebuah grup Facebook atau Linkedin. Biasanya, grup seperti ini terbentuk karena dasar ketertarikan yang sama dari para anggotanya. Ikutlah ke dalam grup yang berkaitan dengan produk atau jasa yang sama dengan yang ditawarkan bisnis Anda. Jangan melakukan promosi apapun di awal, terus saja berinteraksi dengan mereka. Buatlah mereka menganggap kita sebagai expert dalam bidang tersebut. Sampai akhirnya kemudian kita mengenalkan produk atau jasa dari bisnis kita.

2. Gunakan influencers yang tepat: Selain berinteraksi dengan customers, berinteraksilah dengan orang yang sudah lebih dulu berinteraksi dan membangun trust dengan mereka. Dalam hal ini adalah influencers. Mungkin para perusahaan besar menggunakan jasa selebritis untuk meng-influence customer melalui sosial media. Kita bisa menggunakan jasa influencer yang merupakan expert di suatu bidang yang sama dengan bisnis kita. Hal ini lebih ampuh daripada hanya menggunakan jasa selebritis. Karena menurut data, 70% orang mengaku lebih relate dengan mikro influencer dibanding dengan selebritis biasa apalagi early adopter yang anti mainstream mereka akan lebih percaya pada mikro influencers.

3. Sisipkan pesan yang tepat: Jika ingin menarik para early adopters, pastikan kita berkomunikasi sesuai dengan bahasa dan keinginan mereka. Para early adopters sangat menginginkan sesuatu yang baru dan inovatif, sesuatu yang bisa mereka klaim. Gunakan pada campaign social media Anda, kata-kata seperti “new” atau “limited release”. Ciptakan konten yang bisa mereka lihat, mungkin dengan video atau visual. Jangan lupa sertakan review dari siapa saja yang sudah pernah menggunakan produk tersebut dan berikan detail benefit produk tersebut jika digunakan.

Nah, jika sudah menemukan dan mulai berinteraksi dengan like dan komen serta berinteraksi di group dan berhasil menarik perhatian dari early adopters, jangan lupa untuk berkenalan dengan mereka. Hal inilah yang jarang dilakukan oleh perusahaan besar. Jumlah followers yang terlalu banyak membuat mereka tidak bisa membalas satu per satu comment dari followers

Tapi kita sebagai pebisnis pemula tidak memiliki problem tersebut. Selama kita bisa membalas comment dari followers, maka lakukanlah. Ini yang harus diingat, customers tidak ingin brand hanya selalu menjual sesuatu kepada mereka. Customers ingin terkoneksi dengan brand yang mereka pakai.

Mendapat like memang penting, tapi berinteraksi dengan customers di sosial media lebih penting lagi. Kita bisa mengkonversi mereka menjadi pelanggan setia yang selalu berulang kembali memakai produk atau jasa dari bisnis kita dan mempromokan produk ke teman-teman mereka.

Selalu berkomunikasi dengan menjawab comment mereka. Dan jangan lupa tanyakan pendapat mereka tentang konten yang Anda buat. Berkomunikasilah dengan cerita yang relate dengan mereka. Lalu berinteraksi dengan cara yang tidak pernah dilakukan oleh perusahaan besar lainnya. Dan kita dijamin anda akan selalu memenangkan persaingan.