CARA PANDANG

Tidak ada hidup yang terlalu berat sampai tak bisa dipermudahkan dengan cara kita menyikapinya.

ELLEN GLASGOW.

Dyan adalah salah satu dari orang yang terlunta-lunta dijalan dengan sebuah kereta dorong hasil curiannya dari toko Safeway untuk membuat semua yang dimilikinya. Aku selalu menghindari tunawisma—aku tak pernah memahami mengapa tinggal di rumah lebih nyaman fan hangat.

Biasanya aku akan mendengus dengan kesal,”Aku punya rumah, aku bersekolah, dan aku punya keluarga yang hebat. Sumpah, mengapa aku harus peduli pada orang-orang ini?”

Suamiku akan mengoreksiku. “Sebagian orang itu telah kehilangan rumah dan pekerjaan mereka, kadang-kadang bahkan keluarga mereka, dan mereka tak punya tempat menumpang.” Aku merasa malu untuk mengakui bahwa setelah mendengar yang dikatakan suamiku, aku hanya merasa tidak terlalu jijik lagi.

Lalu suamiku kelihangan pekerjaannya. Pada suatu hari kami punya penghasilan yang bagus dan aku akan segera mendapatkan gelar sarjanaku di bidang psikologi, tiba-tiba esok harinya kami tak punya apa pun lagi. Dia sudah pernah kena PHK empat tahun sebelumnya dan kami sudah mengabiskan seluruh tabungan kami dan menyatakan bangkrut. Dia sudah melakukan pekerjaan sebagai konsultan, tetapi tetap saja harus berhemat dengan ketat dan berjuang membayar tagihan bulanan. Untunglah, kami belum kelar mencicil kebangkrutan, maka pengacara kami menyerankan agar kami menjual rumah dan salah satu dari dua mobil kami. Aku benar-benar merasa depresi dan berpikir alangkah mudahnya bila aku mati saja  atau seperti Dyan, menjadi tunawisma yang dihindari oleh setiap orang, dengan sebuah kereta belanja curian yang memuat semua yang kumiliki.

Di pertengahan bulan Desember tahun itu putriku yang baru saja menikah memberiku 100 dolar sebagai hadiah menjelang Natal. Aku butuh menegarkan diri sekuatnya untuk menahan tangisku di depannya. Begitu dia pergi, aku memutuskan menyetir ke toko lokas Wagreens untuk membeli beberapa keperluan guna membuat rumah kami bernuansa Natal dan beberapa barang persediaan.  Jadi, aku masuk ke mobilku dan menyalakannya. Tak terdengar suara apa pun. Kepalaku terlukai di antara kedua tanganku yang terkepal keras di kemudi. “Oh Tuhan, tolonglah, jangan! Kami tak akan mampu memperbaiki mobil ini. Lalu bagaimana?”

Aku hanya berada Sembilan meter dari halte bus sewaktu bus No.58 terlihat mendatangi. “Itulah yang berikutnya,” aku terisak. Aku duduk di atas bangku menantikan bus berikutnya yang akan datang dua puluh menit lagi. Kuletakkan tas besarku yang berisi 100 dolar di bangku di sebelahku.

Udara terasa bersih, di belakangku ada serumpun pohon pinus mugo yang merunduk di halaman depan sebuah rumah yang sialnya pas berada di belakang halte bus kumuh. Tiba-tiba, sebuah bayangan mengahalangi sinar matahari, sementara bau pengap pakaian kotor dan tubuh lusuh menyergap hidungku.

“Ada yang duduk disini?”

Aku tengadah. Oh ya ampun, si perempuan dengan kereta belanja curian itu. Sebagai jawabannya, aku meraih tasku dan mendekapnya erat ke dada di atas perutku. Dia mendorong keretanya di sisi bangku dan duduk sambil menarik napas “Oh, enaknya bisa duduk.”

Aku menjauhkan tubuhku sebisa darinya.

Dia menyadari punggungnya ke sandaran bangku. “Terasa nggak matahari itu?”

Dahiku berkerut. “Matahari apa?”

“Bahkan kehangatan matahari yang hanya samar-samar itu saja terasa nikmat bila suhu turun sedikit di atas suhu beku setiap malam sejak bulan Oktober.”

Aku terpana. Dia terdengar cukup terdidik. Anggukanku adalah jawaban terdidikku.

Aku akhirnya menatapnya dan dia menatapku.

“Mengapa Anda begitu murung?”

Aku langsung mengalihkan pandanganku dan menarik diri.

“Mengapa Anda berpikir begitu?”

“Aku belum pernah melihat tampang begitu sedihnya, lengkap dengan hidung merah, muka pucat, bibir cemberut, dan mata bengkak.” Dia mendekatkan wajahnya. “Aku benar, bukan?”

Kini perempuan tunawisma ini mencemaskan persaanku. Hanya dalam bilangan menit aku sudah kalah oleh perempuan ini. Betapa malunya aku! Bagaimanapun, aku sudah kehilangan semua yang kumiliki. Bahuku meneku dan aku menyembunyikan wajahku. Meski tidak mau , aku mulai menangis, “Apa yang terjadi padaku?”

“Masalah keuangan?”

Aku mengangguk dengan enggan. “Pengacara keuangan kami menyarankan agar kami menjual rumah kami.”

Aku menunduk menatap wajahn ya yang memerah, dan tangan kasarnya yang menggenggam tanganku.

“Ada yang lebih buruk lagi ketimbang kehilangan rumah.”

“Lebih buruk lagi? Bagaimana bisa ada yang lebih buruk lagi?”

“Kau bisa kehilangan suamimu.”

Aku menyeka wajahku. “Kehilangan apa?”

Dia menatap ke seberang jalan. “Pada tahun 2005 aku dan suamiku baru saja mendapat pekerjaan yang bagus. Bila disatukan gaji kami mencapai 200.000 dolar setahun. Kami tinggal di Chicdan pindah ke rumah megah yang diluar jangkauan beli kami. Pada tahun yang sama, dia kehilangan pekerjaannya dan tak lama kemudian aku pun tak bekerja. Jadi, tentu saja kami kehilangan rumah kami dan harus pindah ke sebuah rumah sewaan yang sempit. Kami bertengkar setiap hari. Perkawinan kami jadi berantakan ketika dia mendapatkan pekerjaan lain dan hidup bersama sekretarisnya.” Dia melirik tangannya. “Suatu hari, setelah pulang belanja, aku tak bisa masuk ke rumahku sendiri. Aku mencoba masuk dari jendela. Sewaktu aku sampai di beranda depan, dua tas berisi pakaian yang akan kusumbangkan telah menantiku. Aku tak pernah melihat isi rumahku lagi.

“Aku tinggal bersama temanku yang sudah berpisah dengan suaminya tetapi ketika suaminya kembali lagi, aku diminta keluar. Ke mana aku  bisa pergi?aku hanya punya uang 200 dolar dalam tasku dan tak punya kartu kredit atau rekening bersama kami. Orangtuaku tinggal di wilayah timur dan mereka bisa saja membantuku tetapi aku sangat malu mengatakan kepada mereka bahawa aku telah kehilangan semuanya. Jadi, aku meminta tumpangan kepada dua pengemudi dan inilah aku. “Dia menarik napas. “Kejadian itu sudah tujuh tahun yang lalu.” Tiba-tiba dia tersenyum. “Tetapi sekarang aku tak punya tagihan yang harus kubayar dan tak punya tanggung jawab. Aku sebebas burung. Hanya tak punya sayap saja.”

Aku merasa malu bahwa aku sudah curhat dan mengeluh kepada seorang tunawisma. Kisah hidupnya membuat nasibku jadi bukan apa-apa.

“Mengapa kau tidak mencari kerja?”

Dia menunjuk ke tubuhnya. “Apakah kau akan mempekerjakan orang sepertiku ini?”

Aku tak bisa menjawab itu jadi aku tetap diam membisu.

Bus yang kutunggu tiba dan sewaktu berdiri aku berkata kepadanya, “Kau bisa tinggal bersama kami. Ada kamar di rumah. Sampai rumah itu terjual.” Tak kupercaya betapa biasa-biasa saja aku tentang menjual rumah. “Kami tinggal di 5600 Coleman.”

“Terima kasih. Tapi aku suka bebas begini. Hanya dingin yang aku tak tahan.” Dan setelah mengatakan itu dia berdiri dan meraih kereta  belanjanya. “Sampai jumpa, Mrs…?”

“Buckman.”
“Aku Dyan, hanyan Dyan.”

Di dalam bus, sewaktu sosok Dyan makin mengecil, aku menoleh kebelakang dan tersenyum—sebuah rumah hanyalah sebuah rumah. Aku merasa lebih bahagia ketimbang hari-hari sebelumnya.