Ada Tipe Introvert yang bisa Hasilkan Gaji paling Tinggi dan 5 karakter kontributornya

Ada Tipe Introvert yang bisa Hasilkan Gaji paling Tinggi dan 5 karakter kontributornya

Siapa sih yang ga mau dibayar dengan gaji yang besar? Apalagi berkali-kali lipat dari yang sekarang.. Pastinya ga nolak deh.. Selain financial reward yang membuat hidup terasa lebih lega, tapi bagi beberapa orang pendapatan yang tinggi itu lambang dari kesukesan kita dalam karir lohhh…

bahkan untuk meraih posisi ini banyak yang menggunakan strategi pindah kerja agar dapat promosi jabatan yang lebih tinggi.. Hayooo siapa yg kayak gini?

Tapi teman intropreneur wajib tau, dari semua tipe introvert yang ada 8 tipe introvert, ada tipe introvert yang menurut riset secara natural akan menghasilkan gaji paling tinggi! Memang ada ya hubungan pendapatan dengan personality? Kalau begitu, kita lihat yuk riset psikologi berkata apa…

Jika teman intropreneur sekarang ingin menambah gaji? Atau ngerasa kok udh tingkatkan skill, jadi lebih rajin, pergi gelap pulang gelap tapi gaji masih gak naik juga?

Sementara nih….ada rekan kerja yang biasa aja, tapi sifatnya mudah bergaul dan pintar deketin bos sehingga dapat project strategis malah gajinya tinggi banget!

Kalo iya, pas banget nih dengan topik bahasan kita kali ini. tanpa berlama-lama lagi yuk kita simak bareng-bareng

Kenapa sih gaji mereka lebih tinggi? apakah ada faktor – faktor penentunya?

Apa saja faktor yang membedakan salary kita? Jika udah meningkatkan dari sisi Pendidikan, pengalaman, atau skill yang memang biasanya berpengaruh pada kenaikan gaji yang bisa kita terima tapi belum berhasil, cara lainnya yang biasa dlakukan adalah pindah kerja atau naik jabatan.

Tapi pernahkah teman intropreneur berpikir bahwa ada faktor lain yang menentukan besaran gaji yang diterima?

Nah disini saya ingin tunjukkan ada sebuah riset psikologi dari badan psikologi modern truity yang telah melakukan riset dan digabungkan dengan survey pada 72.331 responden yang mengisi TypeFinder personality assessment menyediakan informasi tentang salary dan status kepegawaian mereka.

Nah, setiap orang didalam survey itu juga diminta untuk menyelesaikan tes personality untuk mengukur preferensi mereka pada tiap empat dimensi Myers and Briggs, dan juga dilakukan pengukuran pada 23 tipe personality secara lebih detail. 

Dari hasil riset dan survey yang luar biasa extensive itulah ada kesimpulan bahwa memang ada korelasi kuat antara pendapatan kita dan personality kita.

Pentingnya mencari tahu jenis personality yang kita miliki agar bisa dioptimalkan

Owh iya, Untuk teman intropreneur yang belum tahu tipe personality myerss-briggs-nya atau mana tipe introvert anda, bisa coba lakukan tes singkat di https://www.16personalities.com/id

Kalau ingin akurasi yang tinggi dengan Analisa yang lebih lengkap rekomendasinya tentu adalah berkonsultasi ke biro psikologi untuk mengenal potensi diri anda. 

Secara singkat, ada 16 jenis personality berdasarkan Myers and Briggs. 8 di antaranya adalah karakter kepribadian introvert yang berbeda. Mereka adalah:

Arsitek (INTJ-A/INTJ-T): 

Pemikir yang imajinatif dan strategis, dengan rencana untuk segala sesuatunya

Ahli logika (INTP-A/INTP-T): 

Penemu yang inovatif dengan rasa keingintahuan akan pengetahuan yang tidak ada habisnya

Advokat (INFJ-A/INFJ-T): 

Pendiam dan mistis, tetapi idealis yang sangat menginspirasi dan tak kenal lelah

Mediator (INFP-A/INFP-T): 

Orang yang puitis, baik hati, dan altruistik, selalu ingin membantu dengan aksi kebaikan

Virtuoso (ISTP-A/ISTP-T): 

Eksperimenter yang pemberani dan praktis, menguasai semua jenis alat

Petualang (ISFP-A/ISFP-T): 

Seniman yang fleksibel dan mengagumkan, selalu siap menjelajah dan mengalami hal baru

Ahli logistik (ISTJ-A/ISTJ-T): 

Individu yang prakti dan mengutamakan fakta, yang keandalannya tidak dapat diragukan

Pembela (ISFJ-A/ISFJ-T): 

Pelindung yang sangat berdedikasi dan hangat, selalu siap mebela orang yang dicintainya

Introvert tipe mana yang menerima salary paling banyak?

Oke teman intropreneur, yuk kita kembali lagi ke penelitian dari badan psikologi truity tadi…

ternyata hasil penelitiannya dalam level yang lebih detail alias mikro menemukan bahwa bahwa pendapatan yang diterima tiap tipe introvert yang ada 8 itu berbeda-beda.

Dan ajaibnya perbedaannya itu cukup drastis, dengan jumlah selisih perbedaaan hingga 16.000 dollar US antara peringkat atas dan peringkat paling bawah penerima gaji. Tipe thinking dan judging (terutama ISTJ dan INTJ) mendominasi peringkat atas, dengan INFP dan ISFP menyusul di belakangnya. Untuk penjelasan tipenya silahkan aja lihat di16personalities.com ya!

Kenapa ada tipe introvert yang mendapat sedikit?

Jika Tipe thinking dan judging mendominasi peringkat atas….ada pertanyaan nih Kenapa mereka yang Feelers/perasa dan Perceivers/menyimak menerima lebih sedikit?

Ternyata riset truity itu memberikan penjelasan bahwa tipe Feeling lebih cenderung untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan value mereka, dibandingkan pekerjaan yang gajinya besar. Sementara tipe Perceiving digambarkan kurang mempunyai tujuan dibanding tipe Judgers, sehingga menyebabkan mereka lebih cepat tertinggal.

Nah, jika tipe perasa yang adalah ISFP dan ISFJ ternyata diriset itu dikatakan mereka lebih suka berada di rumah untuk mengurus anak mereka. Sementara empat tipe introvert intuitif lainnya dengan penghasilan tinggi (INFJ, INFP, INTJ, dan INTP) dilaporkan adalah seorang pembelajar yang haus ilmu. Sementara tipe menyimak biasanya adalah unemployed alias pengangguran atau bekerja paruh waktu atau freelance.

Sifat personality yang dapat mempengaruhi gaji

Jadi dari riset tersebut memang kelihatan jelas bahwa selain tentunya mereka yang extrovert, introvert dengan tipe thinkers/pemikir, dan judgers/pandai menentukan cenderung mendapat gaji yang lebih besar. Untuk introvert, ada lima kunci yang bisa mempengaruhi besaran gaji yang diterima.

• Ekspresif – mampu sharing feeling dan pikiran 

Disiplin – mampu menghindari gangguan atau godaan

Komit – work first, play second after responsibility

Energetic – memiliki antusiasme

Terorganisasi – teratur dengan sistem

Jadi introvert yang bisa belajar untuk ekspresif cenderung mendapat gaji yang lebih besar. Meskipun ekspresif adalah tipe gaya dari extrovert, introvert yang yang mengadopsi sifat ini lebih banyak mendapat reward secara finansial. Introvert tak ragu untuk menyampaikan opininya dan memiliki pendirian juga selalu menerima lebih banyak salary.

Jadi memang ada beberapa tipe introvert yang secara natural telah memiliki kriteria gaji tinggi secara behaviour, tapi bukan berarti anda yang bukan INFJ, INFP, INTJ, dan INTP memiliki gaji terbatas….persistensi adalah kuncinya, sebab manusia adalah makhluk pembelajar juga yang dengan usaha keras mengintegrasikan 5 kunci elemen tadi mampu meroketkan pendapatan anda.

Belum lagi, pendapatan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, dan personality hanyalah salah satu di antaranya. Jika teman intropreneur ingin sukses dalam karir, miliki sifat dan lakukan kebiasaan mereka yang telah sukses dan anda akan pun tak lama lagi akan sampai disana.

Rahasia Lebih Kreatif ala Creative Junkies dari Yoris Sebastian

Rahasia Lebih Kreatif ala Creative Junkies dari Yoris Sebastian

Setuju ngak sih, kalau bisnis apalagi pebisnis online itu tak hanya harus pandai hitung-hitungan tapi juga harus kreatif? Mungkin yang ada di pikiran teman introprenuer semua kalau digital marketing itu dekat dengan dashboard iklan dan budget yang rela untuk kita keluarkan saat endorse atau beriklan baik di facebook, instagram atau google.

Nah, justru seringkali kita gagal beriklan itu karena terlalu fokus pada metrics-metrics atau tools monitoring yang kelihatannya wow, padahal yang jadi ujung tombak iklan kita itu ya kreativitas dari iklan dalam bentuk gambar ataupun video kan?

Alias, kalau pebisnis digital cacat kreatifitas, sehandal apapun bisa beriklan, ya profit segitu-segitu aja..

Mengambil intisari rahasia kreativitas Yoris Sebastian

Kenapa penting sih kreatif buat pebisnis digital? Gini teman intropreneur, logikanya sebetulnya cukup mudah! Bentuknya bisa bermacam-macam mulai dari visual, teks, audio, sampai video. Tapi kita sama-sama menggunakan media yang sama untuk bisnis kita, yaitu digital. Yang menjadi pembeda adalah bagaimana kreativitas kita dalam menyajikan sesuatu yang relevan dan bermanfaat untuk orang banyak. Sebab ngak hanya materi iklan aja, tapi mulai dari menulis, mendesain, bahkan sampai memikirkan development bisnis itu perlu yang namanya kreativitas.

Nah, saya sendiri seorang penikmat buku yang dituliskan oleh orang yang luar biasa kreatif ini yaitu Yoris sebastian yang menarik untuk dishare intisarinya

Kenapa ada istilah out-of-the-box? ada apa dengan sebuah kotak?

Kalau bicara kreativitas, pastinya Teman intropreneur sering mendengar istilah think out of the box? Quotes itu untuk menggambarkan cara berpikir di luar kebiasaan. Tapi berpikir aja memang ngak cukup jadi kalau Yoris memodifnya sedikit menjadi “think out of the box, execute inside the box” buat saya rasanya akan jadi lebih relevan dan mudah dimengerti.

Karena kekuatan kreativitas justru datang saat ada kotak yang membatasi opsi kita untuk bergerak yang malah menghasilkan kekuatan kreatif.

Keterbatasan menuntut kita melahirkan inovasi agar tujuan dapat tercapai. Jadi buat pebisnis online, jangan pernah kita berkata ngak bisa kreatif karena kita terbatas pada harus pakai software photoshop baru design bisa bagus ataupun harus pakai mic bagus baru bisa podcast atau harus punya studio oke baru bisa buat video youtube. Kalau iya, itu namanya teman intropreneur kurang kreatif.

Cerita Yoris berhasil membuat mall baru di antara 2 mall besar

Sebagai contoh hari ini kita akan belajar dari Yoris Sebastian. Yang karirnya sudah cemerlang di Hard Rock Café, tapi ia memilih keluar dan mendirikan perusahaan konsultan kreatifnya yang diberi nama OMG (Oh My Goodness) karena memang ia telah terkenal mampu memproduksi innovasi dan ide kreatif, jadi ngak asal keluar kerja juga ya..

Satu cerita yang saya sangat suka dari Yoris saat dia sudah mejadi konsultan kreatif, Yoris membuktikan kapasitasnya dalam suatu project saat ia diminta membuat konsep di sebuah mall di daerah Senayan, Jakarta Selatan.

Nah, permasalahan paling besarnya adalah diarea itu sudah ada 2 mall besar lainnya yang berdekatan yang saat itu memang sudah jadi pilihan nongkrong para anak muda.

Dari keterbatasan yang menurut saya cukup menantang itu, ia bisa keluar dengan suatu Ide anti-maintream yaitu menciptakan 12 meeting room, yang dirancang oleh 12 arsitek dan desainer interior yang berbeda. Dan luar biasanya ide yang diajukan Yoris itu pun diapprove, disini saya juga ingat bahwa, kreativitas itu tak hanya masalah bisa kreatif menemukan terobosan tapi juga bagaimana memiliki kreativitas agar ide yang terdengar cukup gila itu pun bisa diapprove. Hasilnya? Tentu saja, Mall ini jadi pilihan para ekskutif muda untuk nongkrong dan ngobrolin bisnis mereka.

Oke, teman intropreneur, disini 3 tips dari Yoris yang sering saya gunakan untuk menambah amunisi kreatif ala Yoris sebastian.

1. Sifat kreatif bisa diciptakan

Bagaimana caranya menciptakan kebiasaan kreatif? Analoginya, seperti menaiki sepeda. Ketika belajar naik sepeda dulu, kita pasti pernah jatuh. Tapi hal itulah yang membuat kita termotivasi untuk terus mencoba. Hingga akhirnya kta akan terbiasa.

Sama dengan naik sepeda, kreativitas itu harus diasah terus menerus. Menurut Yoris, kreatif bukanlah suatu pemberian yang jatuh dari langit ataupun bawaan dari lahir. Tapi sebaliknya, kreativitas itu compounding atau referensinya akan menumpuk seiring kita terus berlatih sehingga dapat diciptakan.

Jika ingin belajar bersepeda, tentu kita harus belajar dari dia yang telah bisa naik sepeda, maka banyak-banyak juga lakukan kegiatan dan berkumpul untuk tukar pikiran bersama orang kreatif lainnya akan sangat mengakselerasi level kreativitas anda.

2. Jangan takut salah

Contoh tak takut salah yang dilakukan oleh Yoris sendiri ada di salah satu buku yang saya sukai yaitu berjudul“Creative Junkies”.

Menariknya, buku itu memang sengaja diberi judul yang salah oleh Yoris. Judul dengan bahasa Inggris yang benar harusnya adalah “Creative Junky”.

Ini tak main-main karena diterbitkan oleh penerbit besar seperti gramedia, tapi Yoris malah sengaja memberi judul yang salah untuk bukunya? Ia pun lagi-lagi berhasil meng-golkan ide tersebut dengan tujuan ingin mendorong orang untuk tidak takut berbuat salah. Karena dengan berbuat salah, orang justru akan banyak belajar. 

Ini berlawanan dengan pendidikan yang diberikan kepada kita mulai kecil hingga dewasa. Sekolah-sekolah mengajarkan kita untuk mengejar nilai, bahkan ujian pun kita hanya bisa memilih satu jawaban benar antara a,b,c, atau d padahal dalam hidup mungkin a dan c bisa benar dan mungkin tak hanya abcd saja tapi kita bisa menemukan jawaban e yang juga benar dan out of the box. Hal-hal itu seringkali justru mematikan kreativitas dan berdampak murid-murid yang akhirnya takut menjadi salah.

Perlu ditambahin juga nih teman intropreneur, bahwa gak takut berbuat salah itu artinya bukan melanggar aturan lho! Nanti bisa-bisa dipenjara kalau melanggar hukum..kreatif itu artinya kita bisa melakukan hal-hal yang tidak normal dan anti-mainstream tapi tidak melanggar aturan atau berkreasi dalam keterbatasan. Contohnya lagi, dulu Yoris pernah membangun hotel di Bali yang dikhusukan untuk meeting yang sekarang sudah banyak penirunya. Hal tersebut bukan sesuatu yang normal, tapi tidak melanggar aturan.

3. Mulai segera

Gak perlu rumit-rumit teman introprenuer jika ingin memulai sesuatu yang kreatif. Kalau terlalu rumit malah nanti gak jadi-jadi!

Sebab kreativitas itu juga perlu proses, jadi mulai aja dulu dari kebiasaan yang kecil.

Contohnya, jika anda memakai jam tangan di sebelah kanan, coba sekali-sekali pakai di tangan kiri. Atau misalnya berangkat ke kantor, coba ambil rute lain yang berbeda. Ini membiasakan diri kita untuk anti-mainstream alias kreatif.

Ga perlu berpikir kreatifitas itu akan berbuah uang atau tidak ya? Laku atau tidak ya? Meskipun keliatannya tak laku, cobalah.. Sebab sense kreativitas anda akan terasah makin tajam dan tak perlu bombastis yang penting praktis

Seperti ada contoh kasus di mana memindahkan lokasi jepretan steples jadi dibawah kanan halaman malah berhasil menjadi pemenang Mandiri Innovation Award. Jika sebelumnya biasanya jepretan steples pada kiri atas, ternyata itu membuat masalah di bank Mandiri karena menyebabkan print teller jadi rusak. Setelah diterapkan steples pada bagian bawah kanan, kerusakan berhasil dikurangi dan Mandiri mampu menghemat jutaan rupiah. Contoh kreativitas simple yang memberikan solusi. 

Alasan Introvert ingin Resign dari Office Modern

Alasan Introvert ingin Resign dari Office Modern

Pernah dengar kan, istilah collaboration is the fuel of growth? Walaupun 100% benar tapi ini juga quotes yang overused paling sering diucapkan seorang extrovert untuk mematikan kreasi seorang introvert… bahkan karena quotes itu, keadaan kantor dimana-mana sekarang ini disulap menjadi lebih mirip seperti kampus yang relax dengan banyak tempat brainstorming yang dilengkapi whiteboard dan post it.

Movement ini nyatanya walaupun marak diadopsi di Indonesia dan luar negeri, tapi menurut riset psikologi efeknya bagi kolaborasi malah negatif lohhh..kok bisa? kali ini akan dijelaskan kenapa hal itu bisa terjadi dan sebaiknya apa yang harus kita lakukan untuk memperbaikinya

kita bakal ngomongin tentang kegelisahan seorang introvert di tempat kerjanya.. Mungkin ini juga yang lagi dirasain sama teman intropreneur juga sekarang? Yang bisa dibilang obsesif pada culture kolaborasi yang malah bikin tim mati ide dan kreasi…

Kenapa? Karena culture yang over collab itu sangat pro extrovert dan ibaratnya anda punya otak kanan dan kiri, ngak mau kan hidup dengan menggunakan satu sisi otak saja…

Nah ideal lingkungan kerja dapat mengakomodasi kedua personality baik yang introvert maupun extrovert…Terutama buat para teman intropreneur yang bekerja di HR atau mau bikin bisnis , wajib dengerin ya supaya dapet insight yang bagus gimana nanti untuk ngatur sistem kerja di kantornya!

Kantor modern yang justru membuat tak nyaman

Pernah berpikir gak bahwa suasana kerja modern yang lagi trend saat ini itu ternyata cukup bikin banyak introvert lebih memilih keluar kerja dan memulai bisnis sendiri atau freelance? Bahkan fenomena ini dibahas secara mendalam didalam sebuah buku Quite, the power of introvert yang membahas fenomena yang disebut the new way of groupthink saat kreativitas dan produktivitas terlahir dari tempat bising.

Simpelnya adalah keadaan di kantor sekarang disetup untuk mengambil keputusan, brainstorm dan problem solve berbasis pada kelompok alias keroyokan.

Nah, menurut ilmu psikologi justru fenomena over kolaborasi ini sangat disukai seorang extrovert, tapi secara tak sadar memiliki efek yang berlawanan pada seorang introvert mulai dari mematikan potensi kreatif, mematikan tim yang sehat atau balance, dan bahkan lingkungan yang gak introvert-friendly itu malah membuat introvert tertekan sampai kebawa pikiran buat resign. 

Bahaya juga ya… nah makanya, yuk kita intip apa saja kesalahan umum kantor di zaman sekarang ini yang membuat introvert jadi dikerdilkan performancenya oleh situasi yang bisa jadi anda bantu setting. 

Nah berikut ini 4 Kesalahan kantor modern yang Mematikan potensi berprestasi Seorang Introvert

1. Konsep Open office yang jadi standard kantor modern membombardir introvert dengan kebisingan dan distraksi

Kemunculan tren baru yaitu konsep open office yang lebih terbuka ini memang sengaja dirancang untuk menciptakan sistem yang bernuansa kekeluargaan dan komunitas yang erat.

Tapi yang seringkali tidak disadari adalah, bahwa bahkan se-extrovert apapun karyawan, mereka butuh ruang privasi apalagi introvert.

Seorang introvert akan bisa sangat dipastikan kehilangan produktivitasnya ketika dipaksa secara keadaan harus terus berada dalam sebuah grup sebab mereka butuh waktu tenang untuk merecharge energi. Dan perbedaan utama dari extrovert adalah justru untuk bekerja secara maksimal, introvert butuh escape dari orang banyak!

Bahkan menurut riset baru-baru ini, kantor dengan konsep open plan yang adalah surga bagi para extrovert ini ternyata tak berakhir pada kolaborasi yang meningkat yang berbuah pada hasil yang cukup significant berbeda.

Didalam riset itu malah ditemukan bahwa faktanya, konsep open office tidak membuat karyawan betul-betul kolaboratif karena suara bising diruang terbuka malah membuat kebanyakan karyawan memilih bekerja dengan headphones dan kurangnya privasi malah membuat banyak karyawan mondar mandir ke kamar mandi atau kafe dan kalau bisa meeting diluar. 

Bahkan ada fakta bahwa orang dengan suara dominan akan menjadi lebih didengar, tetapi yang lainnya mengalami perasaan bahwa orang lain selalu mengamati membuat mereka malah memilih berkomunikasi melalui chat dibanding langsung tanya karena keadaan yang terlalu “terexpose”.

2. Culture Over kolaborasi

Konsep tentang “tim” telah berubah belakangan ini. Dulunya, tim digunakan untuk menggambarkan para individu yang bertanggung jawab untuk sebuah tugas, dan sekarang maknanya bergeser menjadi kumpulan individu yang harus berkumpul terus menerus setiap ada masalah muncul untuk memecahkan masalah.

Secara teori, hal tersebut tidaklah salah terutama untuk berbagi beban pekerjaan dengan berbagai macam perspektif. Tapi di sisi lain, munculah sebutan “groupthink”.

Groupthink adalah proses pengambilan keputusan berdasarkan kelompok yang malah menghambat independensi seorang individu dalam berpikir dan berkreasi.

Sebab groupthink dapat memecahkan masalah secara cepat dengan kombinasi pemikiran yang dimiliki secara kolektif, namun “berpikir” itu lebih jernih jika dilakukan sebelum bertemu. Ini sebabnya, terlalu banyak groupthink justru membuat solusi ya hanya itu-itu aja..

Berpikir secara independent juga sangat berguna untuk membuat waktu di dalam grup menjadi lebih efisien dan ide lebih fresh ketika berkumpul bersama. Terlalu banyak berkumpul malah akan mematikan kreatifitas seorang introvert dan juga extrovert apalagi khusus untuk seorang Introvert, mereka butuh waktu untuk bisa bebas berpikir sejenak sendirian sebelum berkumpul dengan kelompoknya untuk menghasilkan ide yang baru

3. Ekspektasi untuk bersosialisasi

Sadar ngak sih kalau di Kantor, ke manapun kita jalan, dari toilet sampai ke lift isinya ya banyak dia lagi dia lagi dan ga mungkin jalan tanpa “bersosialisasi”. Cukup sulit juga lo menemukan tempat di mana anda bisa benar-benar punya waktu untuk diri anda sendiri. 

Bahkan ini real fakta riset, saking sulitnya nemu tempat untuk recharge, introvert lebih memilih ke toilet lohh.. Atau yang juga sering ditemukan adalah introvert yang selalu terlihat membawa botol air minum sendiri dari rumah yang cukup besar agar tak bolak balik ngambil air dan menghabiskan energi dengan chit chat.

Apalagi setelah meeting yang sering dan settingan kantor open office.. Bisa dipastikan introvert suka makan siang sendirian dan bahkan ngak jarang, mereka bisa menemukan sebuah ruangan yang tenang dikantor bagi mereka sendiri selama istirahat siang seperti misalnya loker room. 

Tapi sekali lagi, semua itu bukan menunjukan bahwa introvert tidak peduli kepada orang lain, ataupun anti sosial. Mereka tetap membangun relasi dengan rekan kerja hanya saja keadaan yang over collaboration itu membuat seorang introvert yang butuh mengistirahatkan sensor mereka dari komunikasi yang dilakukan secara konstan terus menerus menjadi sangat sulit dilakukan.

Jadi jelas ya kenapa saat ini sosok leader itu role modelnya adalah seorang extrovert sebab keadaan dikantor tak didesign untuk introvert untuk berkembang kecuali ia sanggup melewati tantangan – tantangan tadi yang artinya effortnya 2 kali lebih besar untuk menjadi seorang leader. Jadi semua pilihan ada ditangan anda 

Spotify. Raja Baru Industri Podcast yang Akuisisi Dua Perusahaan di 2019

Spotify. Raja Baru Industri Podcast yang Akuisisi Dua Perusahaan di 2019

Pastinya udah familiar ya dengan terobosan di dunia industri perfilman dengan video yang bisa dilihat kapan dengan pilihan acara sesuai selera kita atau disebut juga video on-demand yang lebih kita kenal dengan YouTube, ternyata audio pun bisa on demand lohh dan kita ga perlu menunggu siaran radio untuk bisa mendengarkan topik atau pengetahuan yang kita inginkan kapanpun dan dimanapun dengan podcast.

Tapi kalau sdh ada visual plus audio di youtube, ngapain podcast yah?

Nah….Kali ini kita akan belajar dari pengalaman salah satu layanan musik terbesar yaitu Spotify yang baru saja melakukan 2 akuisisi perusahaan didunia podcasting dan apakah sebetulnya podcast itu memang berbeda dengan konten youtube.. Yuk kita simak!

hari ini kita bakal membahas seputar big update didunia podcasting yang memang masih cukup baru di Indonesia dan juga didunia walaupun trennya makin hari makin menanjak sebagai media baru audio on demand.

Raja podcast Indonesia menjadi Raja dunia di 2019!

Nah…..kebetulan ada cerita menarik tentang platform podcast favorit orang indonesia nih.

jika di amerika itunes adalah platform terbanyak yg digunakan untuk mendengarkan podcast, di Indonesia Spotify adalah rajanya dan menyusul google podcast.

Disini menariknya Spotify yang berhasil keluar dari keterpurukan di tahun 2019 ini dari 13 tahun mereka tanpa profit… walau efeknya tak langsung, tapi berbagai keberuntungan datang dari akusisi beberapa perusahaan di industri podcast ini. Lalu bagaimana ceritanya?

Kira-kira teman intropreneur podcast itu sudah populer belum sih?

Nahh… saya ingin jawab dengan data dari jumlah usernya aja dehh..

Sebab disini ada sebuah riset dari Nielsen, bahwa saat ini jumlah podcast yang aktif masih atau hanya di bawah satu juta, 660.000 lebih tepatnya. Dan jika dibandingkan dengan platform kreatif lainnya seperti Youtube sangat jauh dimana ada 500juta channel youtube didunia dan ada lebih dari 500juta blog diinternet. Jadi masih sangat kecil sekali ya...

Selintas dilihat, memang sedikit aneh kalau platform yang sering kita gunakan untuk mendengarkan music on demand ini, Spotify ingin serius di bisnis ini, jika dibandingkan dengan potensi user yang sudah masif di YouTube dan blog. 

Potensi media baru yang masih blue ocean!

Tapi, ternyata selain ini memang masih early days of podcasting seperti layaknya YouTube 10 tahun lalu, dimana creator di youtube pun belum banyak dan masih banyak video non-proffesional yang created with home quality, Podcast saat ini masih early days juga dan ini yang ternyata membuat spotify melirik media baru yang trendnya semakin naik ini.

Bahkan tak hanya di luar negeri, tapi di Indonesia, para selebriti dan konten kreator melebarkan sayap ke dunia podcast sebagai media baru mereka.

Sebut saja Podcast Ibu-Ibu Yakult milik akun instagram generasi90an marcelafp, podcast box2boxnya milik pangeran siahaan, atau bahkan effort inspigo untuk menjembatani para inspirator terkenal agar bisa dikonsumsi dalam bentuk podcast. 

Ngak hanya itu aja loh, ada juga host podcast atau podcaster seperti podcast awal minggu adriano qalbi yang bahkan melebarkan sayap dari dunia podcast ke youtube seperti halnya podcast smartpassive income milik pat flyn diamerika.

Pelengkap pola konsumsi media masyarakat urban

Ternyata memang fenomena audio on demand ini bukan kompetitor dari video on demand alias youtube, tapi komplementer nihh..selain memang frictionless karena on demand jadi ga perlu nungguin acara seperti di TV atau radio, tapi podcast ini memang fit to our modern lifestyle yang pastinya saat kita commuting atau berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, cukup sulit untuk bawa netflix, baca buku atau streaming dan bahkan download youtube yang bikin penuh smarphone..

apalagi buat yang lagi naik kendaraan umum ataupun macet berjam-jam nyetir, enaknya ya denger podcast pilihan on demand sesuai selera.. Belum lagi nih…saat mata telah lelah kita gunakan untuk bekerja seharian, rasanya sangat nikmat mengkonsumsi podcast sambil relax tiduran 

Sepertinya Itulah dia….. sebabnya banyak selebritis dan influencer mulai merambah podcast karena telah mengerti bahwa podcast melengkapi pola konsumsi media yang ada dan sekarang pun akses membuat channel podcast serta membuat sebuah podcast itu sudah bukan terbatas hanya bagi . 

Spotify keluar dari bisnis model yang diprediksikan gagal

Ada berita dari majalah Fortune tahun 2018 lalu, menyatakan bahwa dalam 13 tahun ini Spotify tidak pernah mendapatkan profit! Sebuah hal yang seharusnya membuat para investornya kecewa. Masalahnya, uang yang dibayarkan Spotify untuk royalty sangatlah besar.

Bahkan sampai 88% budget mereka hanya untuk membayar royalty untuk lisensi kepada label musik. Ini membuat spotify bisnis model ini dijuluki doomed from the start…

Tapi Setelah 13 tahun akhirnya Spotify mengumumkan profit mereka! Spotify menjadi yang terdepan dalam bisnis podcast. Subscribers berbayar mereka naik dua kali lipat dari angka 96 juta menjadi 207 juta. Sementara Apple Music di angka 50 juta subscribers. Sebuah langkah yang cerdas, dengan beralih menjadi raksasa podcast 

Kabarnya nih teman intropreneur, Spotify habiskan dana hingga 340 juta Dollar US untuk membeli Gimlet dan Anchor. jadi 200 juta untuk membeli Gimlet dan 140 juta untuk mengakuisisi Anchor.

Bukan hanya 2 perusahaan ini saja tapi ada total 16 perusahaan di dunia audio technology yang telah diakusisi mereka loh…

Bahkan CEO spotify Daniel Ek mengakui juga bahwa ketika memulai bisnis ini di tahun 2006 ia ia hanya fokus pada musik saja, hingga membuka mata lebih lebar pada “audio” yang menjadi masa depan Spotify bukanlah hanya musik saja. 

Ini memang membuat platform audio terbesar di dunia ini cukup terlambat untuk memasuki dunia podcast. Podcast sendiri buat temen intropreneur yang belum tahu, itu mulai lahir di sekitar awal tahun 2000an, dan meraih momentumnya pada 2004. Setahun kemudian, Apple mensupport podcast pada  iTunes 4.9.

Harapan ke depan dunia podcast dari para konten kreator

Tentu untuk konten kreator tentunya, karena saat ini Spotify telah all-in untuk full effort di dunia podcasting, dan menguasai end-to-end dari hulu hingga hilir, mereka dapat saja memberikan gebrakan inovasi dalam bentuk yang tak kita duga nantinya..bisa melalui ads, atau bisa pay models untuk kreator…

tapi harapannya dari konten kreator pastinya ingin lebih banyak fitur didunia podcast alias audio on demand seperti di dunia video on demand YouTube dengan fitur rekomendasi konten yang berguna untuk memperkenalkan channel baru pada orang baru dan juga fitur analytic untuk kreator yang sangat dibutuhkan sebenarnya bagi para podcaster tapi belum tersedia.

Nah buat anda para teman intropreneur yang ingin meluaskan influencenya sebagai konten kreator bisa dicoba dari sekarang nih sebelum podcast jadi booming seperti YouTube..

Mencapai Massive Result Bedanya Sibuk dan Produktif

Mencapai Massive Result Bedanya Sibuk dan Produktif

Katanya, kalau mau sukses itu harus kerja keras, setuju ya? Sayangnya banyak dari kita yang ingin sukses malah menganggap kerja keras adalah melakukan banyak hal dengan harapan akan lebih cepat sukses. Tapi biasanya, karena semua pekerjaan kita sikat, agenda pun jadi penuh dengan berbagai macam hal yang menunggu untuk diselesaikan alias malah jadi sibuk.

Apalagi Ditambah, pujian kanan dan kiri saat melihat kita “orang sibuk” itu malah membuat kita jadi bangga dengan diri kita… padahal untuk mencapai sukses dalam apapun itu, kerja keras tentu harus ada hasilnya alias produktif. Nah, pertanyaannya gimana ya caranya biar bisa lebih produktif? Yuk kita simak 3 cara untuk mencapai massive result di podcast kali ini!

Ada persamaan dari semua orang sukses di dunia

kali ini kita akan membahas tips bagaimana caranya mengubah kerja sibuk kita menjadi kerja produktif. Karena kunci keberhasilan ada di dalam produktivitas kita yang kita bangun dari hari ke hari.

Sudah tahu belum ciri orang produktif? Ia adalah seseorang yang mampu mengendalikan waktu dan bukan dikendalikan oleh waktu. Mereka bukan sekedar sibuk tapi mampu menghasilkan alias fokus pada kualitas dan bukan kuantitas.

Mulai dari Warren Buffet, Oprah Winfrey, Tony Robbins, sampai Jeff Bezos adalah para master dalam time management, ini membuat mereka bisa lepas dari isu kuantitas alias sibuk dan mampu beralih ke produktif atau kualitas result-driven.

Mencapai produktivitas masif

Yuk simak 3 perbedaan utama yang membedakan orang-orang sukses tadi dari sisi produktifitasnya..

1. Orang sibuk bekerja keras. Orang produktif kerja keras dan kerja cerdas

Jangan salah lohhhh….Orang yang sibuk itu bukan totally negatif dan bahkan mereka memiliki etos kerja yang bagus, yaitu mereka selalu terlihat sibuk. Kesibukan yang berlarut-larut ini biasanya terjadi karena mereka hanya bekerja terus tanpa secara sadar melihat peluang cara kerja lain yang lebih baik untuk melakukan suatu hal.. Nah ini istilahnya kerja secara cerdas. .

Orang produktif juga awalnya bekerja secara effisien yaitu apa yang harus dikerjakan ya dikerjakan, tapi mereka juga mencari jalan paling efektif untuk menghasilkan outcome yang sama baiknya dengan cara baru.

Teman intropreneur, saat ini juga bisa evaluasi nihh..

a. Apa tugas yang anda kerjakan? Apakah tugas itu penting jika iya maka kerjakan?

b. Bisakah anda mencari cara yang lebih baik untuk mengerjakannya?

c. Bagaimana anda bisa mengimprove pendekatan supaya 10x lebih produktif?

2. Orang sibuk tenggelam pada detail. Orang yang produktif memperhatikan makro dan mikro

Fokus pada detail memang baik, tapi jangan sampai membuat proses secara globalnya menjadi lambat dan tak produktif

Sebagai contoh:

Dalam bisnis online, tidak penting anda memilih template A atau B ketika anda memulai suatu pekerjaan. Pilihlah satu dan langsung kerjakan! Anda bisa melakukan revisi belakangan ketika sudah mendapatkan banyak insight. Sampai anda mencobanya, anda tidak akan tahu apakah orang lain akan menyukai pekerjaan anda atau tidak.

• Sama ketika anda menulis blog artikel; bukan suatu masalah jika anda tidak menulis hal yang hebat. Tulisan anda mungkin tidak bagus ketika pertama kali memulainya, bahkan mungkin sampai saat ini. Tapi jangan jadikan hal tersebut rem anda untuk berhenti menulis dan mengembangkan skill menulis anda.

Tentu saja seperti saya katakan tadi, detail juga sangat penting. Contohnya, pada Steve Jobs yang ingin semuanya perfect. Tapi ada kuncinya yaitu berfokuslah pada detail yang memberi efek pada outcome anda secara significant dan sementara itu, delegasikan pekerjaaan yang lain, lakukan pola 80/20, atau eleminasi.

3. Orang sibuk selalu mengiyakan segala sesuatu, orang produktif selalu memilih dengan sadar

Ada satu kebiasaan orang yang sibuk yang selalu berulang yaitu selalu mudah mengatakan setuju kepada sesuatu. Hasilnya ya sangat jelas, jadwal mereka penuh dan membuat mereka sibuk tapi tidak mengubah apa-apa dalam hidup mereka. Alias kurang fokus!

Orang produktif selalu memilih sebelum mengatakan iya atau tidak, bagaimana pola pikir yang bisa kita tiru orang produktif itu adalah…

• Mereka tahu dengan menjawab “ya” akan mengambil waktu mereka kemudian

• Mereka tahu menjawab “ya” pada sejumlah hal yang salah akan menuntun mereka ke jalan yang salah pula

Menjawab “tidak/no” akan melindungi aset berharga mereka yaitu “waktu”, yang bisa digunakan untuk hal yang penting lainnya.

Seringkali kita mengacaukan produktivitas dalam bisnis justru karena terlalu banyak mengambil hal yang kita kira peluang tapi malah gagal diolah.

Sebagai contoh, dalam sehari anda berniat menyelesaikan banyak tugas 13 hal misalnya….seperti bikin konten, cek akunting, belajar, menulis blog, reply email, dll. Tapi kenyataannya dalam sehari itu anda hanya selesaikan 1 atau bahkan tak bekerja sekalipun dan bukan 13 karena terlalu bingung untuk harus mengerjakan semuanya dan overwhelmed

Kuncinya, jangan pernah bebankan diri anda banyak target yang membuat anda kewalahan sebab semua orang hanya punya 24 jam. Dibanding misalnya anda membebankan 13 tugas dalam sehari kepada diri anda, kenapa tidak pilih hanya 3 saja yang betul-betul jadi prioritas untuk anda selesaikan? Selesaikan 3 hal makro yang jadi prioritas serta fokus.

Kuncinya diawal adalah di menyaring tugas yang penting untuk dilakukan lalu setelah disaring menerapkan prioritas agar anda dapat produktif.

Hati-hati sebab memang menjadi sibuk itu pelarian yang enak karena anda tidak perlu berpikir. Dan dengan mudah men-shut off pikiran anda dan just go through the motion. Tapi dengan itu anda takkan bertumbuh dan membuahkan hasil yang memuaskan. Jadi, apa pilihan anda?

Ok, Sampai di sini dulu episode Igcast Intropreneur kali ini. Kalau teman intropreneur punya saran, kritik, atau pertanyaan apa saja soal dunia digital marketing dan introvert, bisa langsung ke instagram @sekolahpbisnis atau @yosefadjibaskoro. Ok terima kasih yang uda dengerin Igcast Intropreneur hari ini. Kita ketemu lagi di episode mendatang. Yosef pamit, see ya.

Tips Simple Atasi Sifat Pemalu: Jangan Jadi Pemalu Kalau Mau Maju

Tips Simple Atasi Sifat Pemalu: Jangan Jadi Pemalu Kalau Mau Maju

Oooo…Ternyata pemalu itu  berbeda dari pendiam yaa.. Diepisode sebelumnya ke 27, kita udah tau cara untuk tau apakah kita introvert alias pendiam atau shy alias pemalu.. Nah, cepatnya nih, jika anda Takut untuk membangun interaksi sosial dengan orang lain? Suka menyalahkan diri anda sendiri?

Bisa jadi anda bukan introvert tapi seorang pemalu atau mengalami shyness! Teman intropreneur, tahu gak sih kalau sifat pemalu itu bisa menghalangi kita dari goal personal atau professional lho! Karena secanggih dan sepintar apapun kita, di zaman kolaborasi ini, kita gak bisa berdiri sendirian kalau mau sukses. Tapi kabar baiknya, ada 3 tips ampuh untuk melewati rasa malu yang selalu menghantui itu. Yuk kita simak!

Kolaborasi di era 4.0

Kali ini kita bakal ngomongin suatu hal yang berhubungan dengan yang pernah kita bahas sebelumnya di episode 27, yaitu tentang pemalu. Kalau waktu itu kita ngebahas tentang terminologi dan tipe-tipe pemalu, kali ini kita bakal bahas lebih dalam dari sisi si pemalunya itu sendiri dan yang menarik nih, adalah ada tips bagaimana ada 3 cara untuk mengatasi sifat pemalu yang mungkin sudah meneror anda.

Kenapa ini penting? Karena sebagai pebisnis digital yang akan memasuki era revolusi industry 4.0, prestasi itu deket dengan kata kolaborasi alias kita gak bisa sukses kalau gak berkolaborasi dengan orang lain karena kunci prestasi adalah akselerasi yg tentunya bisa diraih kalau bekerja sama.. Maka dari itu, buat yang masih merasa minder atau takut-takut alias pemalu dalam bersosialisasi, dengerin podcast kali ini karena ada 3 tips yang bisa diambil nih!

Yuk kita lihat apa sih sebetulnya definisi pemalu dilihat dari behavioural science atau ilmu psikologi..

Ternyata Sifat pemalu atau shyness adalah datang sebagai respon ketakutan yang direfleksikan oleh sistem neurobiology atau respon saraf kita ya..

menurut riset psikologi, sumbernya  bisa macem-macem seperti pola asuh orang tua, pengalaman hidup yang traumatis seperti dibully misalnya dan beberapa faktor lainnya. Tapi yang jelas, efeknya adalah kecangggungan merasuki ketika seseorang mencoba mendekati dia atau dia mencoba membuka interaksi alias ngobrol dengan orang lain. Sifat ini .

Nahhhh… ini jauh banget dari seorang introvert yang tak sama sekali mengalami hal ini..introvert perlu mengelola energi dalam kesendirian, tapi pemalu sebetulnya saat ingin menjalin hubungan sosial dengan orang lain, tapi seringkali tidak tahu caranya atau merasakan anxiety (kecemasan) alias ketakutan saat mau ngobrol.

Seringnya, seorang yang pemalu ingin membangun hubungan dengan orang lain, tapi merasakan ketakutan akan penolakan atau dikritisi, sehingga akhirnya mereka mengasingkan diri secara sosial. Dan yang parahnya, jika tak tau cara menanganinya mereka bisa berakhir menjadi penyendiri dan terisolasi, yang pada tahap lanjutnya bisa menimbulkan masalah baru seperti depresi dan yang terparah social anxiety.

Nah berikut, ada beberapa tips yang bisa anda coba untuk mengatasi sifat pemalu anda:

1. Plan it to go well

Sifat pemalu, itu berakar dari kuatnya pemikiran akan respon negatif yang berlebihan atas respon dari orang lain. Jadi karena ada ketakutan berlebih, merasa diri selalu dievaluasi secara negatif, malah yang ada di pikirkan adalah bagaimana agar tidak melakukan kesalahan, dibanding berpikir bagaimana melakukan suatu secara benar.

Perbedaan mindset ini kelihatannya simpel, tapi sangat fundamental karena ketika fokus kita pada tidak melakukan kesalahan, banyak waktu dihabiskan untuk mengevaluasi diri sendiri dan bukan bagaimana caranya agar diri anda bisa menghasilkan situasi yang sukses.

Nah, tipsnya adalah fokus pada bagaimana melakukan sesuatu dengan cara benar atau memberikan value dari topik yang menarik bagi diri anda. Jika anda khawatir dengan memulai pembicaraan ringan, mulai bantu orang sekitar anda dengan bertanya dan sharing seputar topik yang anda kuasai agar dapat memberikan manfaat

Shifting di mindset dari takut melakukan kesalahan pada berkontribusi melakukan sesuatu yang benar akan membantu melawan sifat pemalu anda. Ini kelihatannya simpel tapi sangat penting lohhh supaya anda bisa merasa bahwa kontrol maish ada di dalam kendali anda.

2. Be curious about others

Saat kita mengalami shy atau malu, maka kita takut akan pendapat orang lain terhadap kita. Nahh, perubahan mindset kedua disini adalah untuk memutar fokus bukan pada respon mereka pada pendapat yang anda berikan, tapi fokus menggali lawan bicara..

Saya ingat satu buku dari Dale Carnegie yaitu how to win friends and influence people yang menjelaskan bahwa

influence terbesar yang bisa kita dapatkan itu bukan dengan cara membuat orang lain tertarik dengan diri kita… tapi justru membuat diri kita tertarik kepada mereka secara tulus yang pada akhirnya membangun hubungan lebih dekat.

Nahh… ini berlawanan dari mindset seorang pemalu yang berusaha membuat dirinya menarik dan jika tidak menarik maka akan di judge orang negatif.. Saran saya ubah mindset untuk membuat diri orang lain yang menjadi objek menarik…

cobalah berfokus atau istilahnya kepo dengan orang lain. tapi kepo yang positif ya! contohnya seperti siapa mereka? apa hobi mereka atau interest poin mereka? Puji pencapaiannya dll…Hal-hal seperti ini akan membantu anda untuk menciptakan topik pembicaraan. Sebab seperti pepatah berkatan, setiap orang punya cerita untuk diceritakan tapi sedikit yang mau mendengar. Temukan itu, kemudian sit back dan dengarkan kisah mereka. Ini adalah cara yang sangat baik untuk menarik perhatian orang lain.

3. Soften your inner dialogue

Perubahan yang selanjutnya ini lebih ke arah self-talk. Sebab sebetulnya, seorang pemalu seringkali mengkritik diri secara keras dan dialog dengan diri mereka sendiri seringkali sangat menyakitkan untuk diri sendiri.

Efeknya secara psikologi, ketika dalam pemikiran kita memperlakukan diri kita secara keras, alam bawah sadar kita akan bertendensi bahwa orang lain juga akan melakukan hal yang sama kepada anda padahal kenyataannya tak demikian.

Oto-kritik yang keras pada diri ini mengakibatkan kerusakan emosional dan mengurangi penghargaan kepada diri sendri.

Di kasus ini, maka cara yang paling baik adalah dengan menemukan suara tambahan dalam diri anda yang berlaku sebagai sahabat anda. Mulailah dengan mencari hal yang baik atau positif pada diri anda, kemudian secara sadar lakukan self-talk layaknya self-talk yang ingin naik ke panggung memotivasi dirinya sendiri. Ketika inner kritik mengkritik anda dan membuat anda takut ditolak, biarkan teman positif dalam diri anda melakukan self-talk untuk mengalahkannya.

Ketika inner kritik berkata bahwa tidak ada satu orang pun menyukai anda, secara sadar lakukan self-talk dan katakan bahwa yang terpenting anda menyukai diri anda sendiri dibanding siapapun. Ketika anda bisa belajar untuk lebih gentle dengan diri anda, situasi sosial tidak akan bisa menyakiti anda lagi sehingga seorang pemalu tak perlu seperti menghukum diri sendiri.

Perlu diketahui juga bahwa sifat pemalu bukan sesuatu kerusakan psikologis yang dalam seperti halnya social anxiety disorder yang memiliki rasa ketakutan sangat signifikan dalam situasi sosial seperti diteror oleh sesuatu.

Pemalu masih bisa dihadapi secara psikologis dan yang bisa anda lakukan adalah mencoba hidup dengannya dan dengan sadar mengetahui itu sebagai kelemahan anda serta mencari strategi sebaik mungkin untuk mengatasinya.

Bagaimana teman intropreneur? Yuk langsung aja bisa dicoba! Sekian episode Igcast Intropreneur kali ini. Kalau ada saran, kritik dan pertanyaan, bisa langsung kita berjumpa di instagram @sekolahpebisnis atau @yosefadjibaskoro. Terima kasih uda stay tune, dan kita ketemu lagi di episode selanjutnya. Yosef sign out.

3 Tips membangun Personal Brand di Linkedin

3 Tips membangun Personal Brand di Linkedin

Sebagai pebisnis digital tentu harus dinamis dan fleksibel serta mampu melihat tren dan memanfaatkannya untuk kebutuhan bisnis kita kenapa? Karena dunia digital berkembang sangat cepat. Salah satunya adalah Linkedin yang sedang jadi “hot items” sosial media untuk melakukan marketing secara organic. Apalagi jika bisnis teman intropreneur adalah berjualan ke perusahaan atau b2b, pastinya wajib menggunakan platform sosial media yang satu ini. Yuk kita lihat bagaimana cara menggunakan Linkedin dan memaksimalkannya untuk bisnis teman intropreneur

Trend Monetize berbagai platform sosmed

Nah di episode kali ini kita bakal ngomongin digital marketing dengan memaksimalkan Linkedin. Kenapa Linkedin? Karena seperti teman intropreneur ketahui saat ini semua platform digital sedang sibuk-sibuknya memonetizekan platform mereka dengan mendorong penggunanya menggunakan platform berbayar atau ads..

Contohnya, organic reach Facebook terus menurun nilainya dari tahun ke tahun. Ada data historis yang mengatakan pada 2013, Facebook page secara mudah mendapat reach 12% ditiap postnya artinya dari jumlah fans dipage teman intropreneur, 12%nya otomatis melihat update post kita. Nah, Angka itu menurun hanya setahun setelahnya, yaitu pada 2014, yang hanya dapat meraih 6%. Dan pada 2018, angka itu mengecil di bawah 6%. Dan sekarang bahkan bisa dibawah 1%, bayangkan! Dengan demikian jika fanpage anda memiliki 100fans, organic post hanya mampu menjangkau 1 orang saja!

Nah, Karena fenomena itulah, walaupun sebagai digital marketer kita tetap memarketingkan bisnis kita difacebook ataupun instagram, tapi ada titik terang dari Linkedin yang bisa jadi solusi bagi mereka yang ingin memarketingkan bisnisnya secara organic.

Seberapa besar peluang bisnis yang bisa didapat dari Linkedin?

Terlebih jika bisnis anda adalah B2B, Linkedin adalah tempat yang tepat karena di sinilah berkumpul para industry leaders. Jadi, supaya kita sukses memanfaatkan Linkedin, berikut ada beberapa tips yang bisa teman intropreneur coba. Jika belum punya linkedin, silahkan dibuat, dan jika sudah punya Linkedin, yuk coba kita simak tips untuk memaksimalkan personal brand kita disana!

Linkedin memang identik dengan lebih serius dan formal dibanding Facebook atau Instagram. Tapi tau gak, bahwa ada sebuah experiment dari seorang pebisnis digital yang memposting konten yang sama di Facebook dan Linkedin. Postingan di Facebook mendapat 200+ organic reach dan 3 engagement. Sementara di Linkedin, mampu mendapat 8.000+ organic reach dan 37 engagement. Dan itu datang dari post yang sama..artinya Linkedin adalah sosial media yang potensi organik marketingnya masih menjanjikan lho!

Dan menariknya, tahukah anda? Meskipun Linkedin termasuk baru dibanding sosial media lainnya di 2002, tapi saat ini ada sekitar 300 juta users yang terus berkembang di dalamnya. Ga impossible juga bahwa dalam jangka panjang, Linkedin akan menjadi pemain penting untuk bisnis B2B.

Setiap hari para pencari kerja ataupun industry leaders selalu aktif di Linkedin untuk mencari kandidat baru. Setiap senior leader yang selalu melakukan interview, partnering dan mentoring,

Lalu, bagaimana cara mengoptimalkan Personal Brand untuk menarik calon buyer?

Yang paling penting untuk pebisnis, para users itu juga sekaligus buyers. Dan 50% para buyers itu cenderung untuk memilih membeli produk jika mereka telah engage sebelumnya melalui Linkedin. Jika anda menjual produk untuk bisnis, Linkedin menyediakan kesempatan yang luas untuk anda asalkan anda menerapkan tips  berikut ini

1. Lengkapi Profil Linkedin Anda

Kenapa harus lengkapi profil? Karena profil yang lengkap menerima 2x lebih banyak visitors dibandingkan yang profilnya kurang lengkap dan ini terjadi secara organic. Jadi pastikan anda telah lengkapi beberapa hal berikut di akun Linkedin anda:

• Logo

• Company description

• Website URL

• Company size

• Industry

• Company type

• Location

Terutama jangan lupa yang terpenting header cover di profile anda yang sebetulnya adalah attention grabber pertama saat orang masuk kedalam profile linkedin anda… jelaskan secara singkat siapa anda dan manfaat yang orang bisa dapatkan dari berkoneksi dengan anda didalam header, yesss bukan dibawah-bawah ditempat about, experience dan lain-lain tapi tepat di header..

Kenapa? Agar sebelum masuk lebih jauh mengenal anda, orang sudah terlebih dulu tahu apa yang akan mereka baca dan dapatkan dari anda.. Jadi header anda adalah summary of profile.. Jika di linkedin saya yosefadjibaskoro, teman intropreneur bisa lihat juga untuk sebagai case study saja..

Bahwa saya diheader saya menuliskan podcast saya intropreneur dan juga ketiga bidang yang saya ingin orang mengenal saya dengan itu yaitu entrepreneur, digital marketing dan psychology lalu baru dibawahnya ada core aktifitas saya dibisnis..nahh, tujuan header adalah membuat orang tertarik untuk scroll dan membaca lebih lengkap, jadi penting sekali untuk memiliki header yang langsung berbicara manfaat pada pengunjung profile anda

2. Write More

Manfaatkan limit 1.300 karakter pada postingan Linkedin anda untuk tulisan yang singkat, padat, dan jelas. Ada fakta, bahwa menulis pada postingan akan mendapat lebih banyak visibility dibanding mempost link atau short post lho, teman introprenuer!

Trik lain yang cukup oke dan bisa anda coba adalah remove link pada preview. Ini terbukti mampu menarik perhatian orang yang akan melihat postingan anda karena bentuknya yang berbeda dengan postingan standard ala link post.

Jadi post dengan postingan normal dan jika ingin melampirkan link, lampirkan pada kolom komentar untuk remind para followers. Tidak mengikutsertakan link dan menempatkannya di komen ini bisa membuat konten anda jadi lebih mudah tertampil di feeds para followers alias organic reachnya lebih baik lohh.

3. Build Company Influencer Not Just Your Company Profile

Nah, ini yang paling penting bagi perusahaan untuk mulai eksis dilinkedin…

kesalahan yang sering terjadi adalah membuat akun bisnis page di linkedin yang organic reachnya tak terlalu bagus karena diarahkan oleh linkedin untuk menggunakan linkedin-ads atau malah membuat akun baru personal dengan nama bisnis ala-ala marketing facebook personal jaman dulu lalu mensharingkan bisnisnya dengan jor-joran..

Nah ini cara yang cukup sesat untuk dimainkan dilinkedin jika anda ingin memanfaatkan organic reach di linkedin. Lalu bagaimana caranya? Caranya adalah dengan menggunakan pendekatan personal yang artinya, orang di linkedin itu walaupun proffesional social media tetap ingin memfollow dan berinteraksi dengan orang lainnya.

Jadi solusinya adalah create your internal influencer…

Nah, apa itu artinya? Artinya buatlah sebuah akun personal dengan nama orang yang nyata, idealnya adalah karyawan bisnis anda atau jika tidak ada atau bisnis anda masih kecil maka anda sendiri yang harus membuatnya dan jadikan karyawan itu atau anda sebagai influencer dari bisnis anda. Jadi orang mengenal bisnis anda melalui internal atau company influencer yang ada diperusahaan anda yang rajin posting konten yang membuat orang tertarik untuk berkoneksi dengan influencer itu.Jadi sekarang, pilihlah satu orang atau anda sendiri juga bisa yang akan menjadi wajah perusahaan anda di linkedin.

Gimana teman intropreneur, sudah siap action di Linkedin? Kalo ada pertanyaan lebih lanjut, boleh kita chit chat di Instagram @sekolahpebisnis atau @yosefadjibaskoro. Atau bisa juga di Linkedin Yosef adji baskoro. Ok sekian dulu episode hari ini. semoga sukses ya teman intropreneur dalam setiap usahanya! Terima kasih uda dengerin, kita ketemu lagi di episode selanjutnya dari Igcast Intropreneur. Yosef pamit. Bye-bye.

Resign demi mengejar passion? Apakah Passion Sama Dengan Hobi?!

Resign demi mengejar passion? Apakah Passion Sama Dengan Hobi?!

Pernah gak anda kepingin resign dari tempat kerja untuk mengejar passion? Apalagi nuansa kantor tempat teman intropreneur kerja sekarang rasanya gak banget! Jadinya dipikir kita akan ada kata-kata seperti ini, mungkin inilah waktu yang tepat untuk mengejar passion saya yang bisa jadi “the next real career”. Tapi masalahnya, apakah anda sudah tahu passion anda? Apa jangan-jangan hal yang selama ini anda anggap passion ternyata cuma sekedar hobi! Terus apakah passion itu sama dengan hobi? Nah….Apa sih sebenarnya passion itu? Yuk kita temukan jawabannya!

Apa sih arti sesungguhnya “live your passion” ?

Di episode kali ini kita akan membahas tentang hal yang pasti familiar dengan anda sebagai pebisnis ataupun karyawan nihh, yaitu passion. Kita sering dengar orang bilang “live your passion”. Tapi apa anda sebenarnya uda tau apa itu passion? Banyak orang akhirnya di luar sana yang menelan mentah-mentah frase live your passion itu kemudian resign dari pekerjaan mereka buat mengejar passion mereka. yang jadi masalah mereka bahkan belum tahu hal apa yang jadi passion mereka, atau apa sih ciri-ciri bahwa anda itu memang memiliki passion atau sebetulnya anda salah menganggap hobi atau kesukaan sebagai sebuah passion! Hati-hati lohh…

Kenapa orang sering menganggap kesukaan atau hobi mereka adalah passion? Simple, karena mereka memang mirip! Karena passion memang bisa berawal dari sebuah hobi.

Hobi sama sekali bukan hal buruk karena memang menyenangkan, dan bahkan memiliki nilai positif. Tapi, jangan sampai anda dibuat bingung dengan mencampur adukan hobi dengan passion. Dan apalagi resign dengan alasan passion padahal cuma hobi!

Perbedaan passion dan hobi dari sisi ilmu linguistik

Sebetulnya, passion dan hobi memilliki sebuah perbedaan yang besar jika kita bahas dari sisi keilmuan linguistiknya. Hobi memiliki manfaat untuk mengisi waktu luang anda secara positif dengan cara merelaksasi diri anda.

Sementara passion bukanlah menyangkut relaksasi sama sekali! Passion ada di dalam anda, baik ketika anda punya waktu luang atau tidak. Passion bisa membuat anda termotivasi dan relax dalam waktu yang bersamaan. Kita mungkin berpikir passion itu adalah sesuatu yang kita cintai, kesukaan kita mempelajari sesuatu yang membuat kita terobsesi, tapi dilihat dari keilmuan lingustik yaitu ilmu ahli bahasa, dalam peralihan lingustik secara history, di bahasa Inggris lama “passion” memiliki arti sama dengan “suffering” atau “menderita”. Nahhh… jadi sangat berbeda kan teman intropreneur, antara suka atau hobi dan menderita atau passion.. Disini kita bisa mulai melihat perbedaan besar antara suka dan menderita.

Jadi perbedaan kunci adalah, menemukan passion anda itu bukanlah tentang menemukan hal yang anda suka atau hobi, melainkan seberapa mau anda berkorban dan menderita bagi passion anda agar tetap berjalan.

Jadi keluar kerja demi passion itu harus ditempatkan pada perspektif yang benar.. Jika saat bekerja saja anda tak bisa mengorbankan waktu yang anda punya untuk membangun passion anda, mungkin yang anda sebut passion itu hanyalah hobi.. Karena Passion atau dalam linguistiknya adalah penderitaan itu tidak runtuh hanya karena anda memiliki pekerjaan disebuah perusahaan.. Sebab pertanyaannya seberapa rela anda menderita menjalankan passion sambil bekerja..

Bahkan passion yang menuntut harga yang mahal kepada kita, dari segi pengorbanan diberbagai aspek kehidupan kita.. Tapi akan secara rela kita bayar pengorbanannya jika memamng itu adalah passion

Jadi taunya gimana taunya kita telah punya passion? Atau apa passion saya?

Passion memang powerful, tapi kenyataannya memang tak mudah untuk disadari. Seperti ikan yang ditanya apakah ia tau apa itu air? Ia menjawab tak tahu.. Padahal secara tak sadar ia selama hidupnya telah hidup didalam air.. Tapi karena saking terbiasanya itu menjadi tak terlihat.

Saya sendiri dulu mengambil kuliah jurusan teknik industri dan hingga s2 di manajemen industri, lalu bekerja di area quality manajemen dan juga training.. tapi yang tidak saya sadari adalah bagaimana selama itu ada benang merah yang sama yaitu saya secara tak sadar dimanapun itu baik skrip saya, tesis saya, pemilihan bidang khusus disaat perkuliahan hingga dunia pekerjaan dan sekarang berwiraswasta selalu tak jauh dari bidang human development atau bagaimana cara untuk membuat seseorang dapat menjadi lebih produktif, effisien dan selalu improve kapasitas dirinya..

bahkan itu juga yang melatarbelakangi saya membuat akun media sekolahpebisnis yaitu untuk memotivasi dan menginspirasi mindset seorang pebisnis untuk mendevelop pebisnis yang memilki self development dan self growth yang baik.. Ini pun juga secara tak sadar membuat saya nyambung saat ngobrol dengan mantan pacar saya yg sekarang jadi istri saya yang adalah lulusan psikologi yang memang mempelajari how human behaviour works dan menjadi nyambung mengobrol dengan saya..

Nah, jadi untuk teman intropreneur, tak mudah untuk menyadari apa passion kita sebab passion hidup bersama dan di dalam kita. Teman intropreneur bisa bertanya apa yang menggerakan jiwa teman intropreneur, yang membuat anda menghabiskan waktu berjam-jam? membuat anda rela mengorbankan uang, waktu, istirahat, dan waktu after office anda serta bahkan liburan anda? Hal apa yang tidak bisa anda hindari? Itulah passion anda!

Ketika anda menemukan passion, anda akan terus melakukannya seberapun harga yang harus dibayar..sebuah pekerjaan di perusahaan tak akan mematikan passion anda..

Lalu, Resign karena passion apakah mungkin? caranya?

Resign adalah masalah uang, dan passion adalah masalah kerelaan untuk menderita…dan buat saya keduanya tak bisa dicampur adukkan.. Artinya jika dengan passion anda belum bisa menghasilkan uang, Bring passion into your work.. Tapi saat passion itu telah bisa menghasilkan uang, maka resign dapat menjadi jalannya.. Jadi bukan berarti jika anda tak resign maka passion anda akan mati, sebab jika itu terjadi, mungkin itu bukan passion tapi hanya hobi.

Kalau ingin resign, pastikan dulu passionya menghasilkan, caranya gimana? Temukan kebutuhan orang dan penuhi itu dengan passion anda. Menemukan kebutuhan ini penting karena menggeser fokus dari diri anda ke luar.. Sebab passion atau hobi adalah diri anda, tapi bisnis adalah soal orang lain..menghasilkan dari passion adalah tentang bermanfaat bagi kebutuhan yang orang miliki dan kita penuhi kebutuhan itu dengan apa passion kita.

Dan bahkan saat passion anda sangat besar, kerelaan anda untuk menderita sangat besar, anda bisa memasukkan passion kedalam pekerjaan.. Jika anda memiliki passion sebagai fotografi, maka pekerjaan anda takkan bisa mematikan passion anda karena anda rela menderita extra sebab passion adalan penderitaan secara rela.. Maka anda rela untuk selalu mendokumentasikan kegiatan ditempat kerja yang membuat passin anda tersalurkan, atau secara reguler sekedar sharing hasil foto anda yang luar biasa seputar pemandangan kantor atau foto rekan kerja..

Misalnya, jika anda punya hobi fotografi, anda sangat menyukai tantangan menghasilkan gambar yang bagus. Tapi seorang yang memiliki passion dalam fotografi, akan terus menghasilkan gambar meskipun di tengah hari yang buruk, bangun lebih pagi setiap harinya, menghadapi klien, membekali diri dengan peralatan yang mahal, menghabiskan berjam-jam untuk editing foto, mengikuti workflow, menghadapi kesukaran bisnis, dan ribuan hal tidak menyenangkan lainnya. Bahkan mengambil kerjaan diweekend sebagai fotografer jika memang anda tak bekerja didunia seni misalnya anda bankir

Jadi, jelas ya? Sekian episode Igcast Intropreneur kali ini! untuk kritik, saran, atau pertanyaan kita bisa langsung bertemu di instagram @sekolahpebisnis dan @yosefadjibaskoro. Terima kasih uda stay tune, teman intropreneur. Kita ketemu lagi di next episode dari Igcast Intropreneur. Yosef sign out.

Mengerti perbedaan cara berpikir seorang pemalu/shyness dan pendiam/introvert

Mengerti perbedaan cara berpikir seorang pemalu/shyness dan pendiam/introvert

Bagi seorang introvert, dianggap pemalu sudah menjadi hal yang biasa karena banyak yang belum bisa membedakan antara sifat pemalu dan pendiam atau introvert dan shyness. Dan oleh karena itu, persepsi itu membuat seorang introvert pun ga jarang malah yakin bahwa dia adalah pemalu dan bukan introvert.

Memang beda ya? Iya, orang yang malu memang pastinya diam karena tak mau bicara, tapi tak berarti orang yang diam itu malu…

Lalu kenapa? Karena banyak sifat positif introvert yang sangat berlawanan dengan mereka yang pemalu atau shy yang dapat berkontribusi positif pada sekitar atau pada tim anda. Yuk kita lihat beda keduanya!

Mitos introvert sama dengan pemalu

Hari ini kita akan menjawab mitos yaitu introvert itu sama dengan pemalu….Dan jika jawabannya adalah bukan, kita coba lihat dari persepsi teori psikologi nih…apa sih yang membedakan introvert dan pemalu? Sebab selain buat anda yang berkarakter introvert untuk mengetahui kebenaran yang mungkin sering salah diartikan..penting juga dan buat anda yang pemalu agar dapat mengembangkan diri. Let’s go!

Pemalu dan introvert sudah sejak lama membingungkan kita semua. Orang berkarakter introvert, sering dipanggil pemalu, begitu pun sebaliknya.

Tapi, Menurut direktur Child Emotion Laboratory dari Universitas McMaster, yaitu Louis A. Schimdt, yang secara akademis mempelajari fondasi personalitas pada biologi, terutama tentang sifat-sifat pemalu, menjelaskan bahwa

“Memang Media sering melihat pemalu dan introvert sebagai satu hal yang sama. Tapi secara konsep teori dan bukti empirik, mereka tidak sama.”

Louis A. Schimdt

Oke, jadi bedanya apa? Pemalu adalah perasaan takut kepada penilaian negatif, sedangkan introvert lebih pada pilihan seseorang pada stimulasi lingkungan yang minimal dan tenang.

Terus kenapa ya kalau pemalu dan introvert itu berbeda, kita masih suka menganggap mereka sama?

Jawabannya adalah dari sisi pandang orang, mereka terlihat sama.. Yaitu diam dan pasif..

Misalnya gini, ada seorang Extrovert yang pemalu yang duduk dan diam saja di dalam meeting karena pemalu takut untuk berbicara, sementara tidak jauh dari dia ada calm introvert yang juga diam saja, tapi tak merasa takut melainkan over-stimulated karena keramaian dalam meeting. Dan di keadaan itu, memang introvert tak ingin mengutarakan pendapat, sangat berbeda dari pemalu yang ingin terlibat dan butuh bersosialisasi tapi mengalami rasa takut.

Jelas ya, nah bahayanya, si  introvert yang selalu dijudge bahwa dia diam karena adalah pemalu dan statement itu diulang-ulang oleh orang sekitarnya di rumah, di sekolah, di kantor dan ditempat ia sehari-harinya berada, karena terus menerus ditekankan ia adalah pemalu.. Introvert merasa ada yang salah dengan dirinya dan malah ia bisa menjadi seorang yang takut berinteraksi dengan orang lain atau pemalu.

Apakah saya ini seorang pendiam atau introvert?

Jadi untuk teman intropreneur, sekarang bisa mulai bertanya nih kepada diri sendiri…apakah teman intropreneur ini seorang pendiam atau introvert ataukah teman intropreneur itu seorang pemalu atau shyness..taunya darimana? Bayangkan situasi saat momen berkumpul bersama rekan kerja, apakah disana ada rasa keraguan dan ketakutan yang membuat Anda nervous saat mengutarakan pendapat ? Jika ada kemungkinan besar teman intropreneur itu mengalami shyness atau pemalu dan bukan introvert. Sebab introvert dapat choose to be social tanpa ada anxiety atau ketakutan, dan memilih diam saat stimulasi telah terasa over stimulasi..

Oke, supaya pembahasan kita lebih akademis lagi nih… Yuk kita simak bahwa ternyata sifat pemalu atau shyness itu dapat di kategorikan lagi lebih detail.. Jadi ada pendapat seorang professor psikologi dari Wellsley College yaitu Dr. Jonathan Cheek yang bilang kalau ternyata ada 4 tipe pemalu yang berbeda.

1. Shy-secure :

Mereka sering memiliki social anxiety atau ketakutan untuk bersosialisasi. Dr Cheek menjelaskan, bahwa orang-orang shy secure, ketika diminta berbicara dengan kenalan baru, mereka tak tertarik dan seringnya menghindar karena mencari keamanan dari rasa ketakutan untuk bersosialisasi itu. Berbeda dengan seorang introvert yang jika memang harus berinteraksi dan bertemu orang, mereka tetap tenang dan melakukan pembicaraan seperti biasa saja.

2. Shy-withdrawn :

Level yang lebih dalam ini, membawa rasa malu pada interaksi ini menjadi lebih terasing dari interaksi sosial. Ini karena sifat withdrawn atau menarik diri ini adalah karena mereka sangat khawatir penolakan, judgement, atau melakukan hal yang salah dan mereka lebih senang menyendiri. Introvert mungkin terlihat menarik diri juga, tapi bukan karena khawatir penolakan atau judgement melainkan karena mencari situasi yang lebih tenang saja.

3. Shy-dependent :

Berbeda lagi dengan pemalu yang satu ini yang sangat tergantung pada kelompok atau genknya. Dijuluki shy-dependent atau pemalu yang ketergantungan, dia ini sangat memprioritaskan kepentingan kelompok dibanding kepentingan pribadi. Kerugiannya adalah saking jadi pengikut yang pasrah, ia tak bisa membangun relationship yang saling menguntungkan karena selalu saja menjadi seorang junior bagi teman-temannya sehingga tendensinya adalah dimanfaatkan. Nah, kalau yg ini dibandingkan dengan introvert, itu sangat jauh, karena introvert memang terkenal independent.

4. Shy-conflicted :

Kategori yang terakhir ini memiliki dilema dalam hati yang sangat besar karena ia memiliki kebutuhan yang tinggi untuk melakukan kontak sosial, tapi juga anxious atau merasakan ketakutan dan kepanikan serta nervous. Dilemma mereka adalah tak ingin menarik diri dari pergaulan sosial tapi juga tak berani melawan arus dan mengemukakan pendapat. Ia Mempunyai ketakutan bahkan sebelum memulai dan ini adalah tipe pemalu yang paling memiliki banyak masalah. Disini sangat berbeda ya dari introvert yang jika ingin bergaul ya bergaul saja, tak ada dilema disana, hanya cepat lelah karena stimulasi lingkungan saja.

Ok, jadi jelas ya cara membedakan….

Sementara introvert mnugkin saja skip party untuk mencari ketenangan dan ngafe. Seorang pemalu sangat ingin pergi ke pesta dan berinteraksi dengan orang lain, tapi mereka terlalu takut untuk melakukannya.

Sekian pembahasan kali ini. Kita ketemu lagi di episode yang akan datang di igcast Intropreneur. Buat teman intropreneur yang punya pertanyaa, kritik, dan saran bisa langsung ke instagram @sekolahpebisnis an @yosefadjibaskoro ya! So, terima kasih udah luangin waktu buat dengerin. Yosef sign out.

Serupa tapi tak sama, bedanya influencer dan content creator

Serupa tapi tak sama, bedanya influencer dan content creator

Teman intropreneur, pasti uda sering denger istilah influencer dan content creator kan? Tapi apa sih bedanya di antara dua panggilan itu? Kira-kira sama ngak ya? Dan yang terpenting nih, apakah itu juga berpengaruh kepada strategi kita dalam memarketingkan produk/jasa kita online. Kita akan bahas sebuah riset seputar influencer and content creator behaviour agar bisa memahami dengan baik fenomena latar belakang yang ada di dunia sosial media ini untuk memudahkan kita membuat rencana bisnis kita di dunia digital. Yuk cari tahu bedanya influencer dan juga content creator!

Pada episode kali ini kita akan membahas tentang perbedaan influencer dan creator di era digital media. mungkin di antara teman-teman intropreneur masih bingung sama beda di antara keduanya. Ya secara professional memang gak ada bedanya, tapi perbedaan keduanya lebih dipengaruhi faktor preferensi dan gender lho! Wah kok bisa ya? penasaran? Langsung aja kita mulai pembahasannya!

Menjadi sosial media influencer sama sekali tidak memikili hubungan dengan seberapa banyak followers dan apa pekerjaan real anda. dulu, influencer identik dengan seseorang yang mempunyai banyak followers yang bisa dimanfaatkan untuk menjual apa saja. Sekarang, standar itu telah diubah oleh banyak marketers. Marketers telah menciptakan terminologi baru, sehingga sekarang kita mengenal ada yang disebut makro, mikro, bahkan nano influencer yang mungkin jumlah followersnya hanya seribu. Sekarang, influencer tidak terbatas pada satu genre. Tapi masih ada beberapa di antaranya yang menjadi kategori seperti beauty and lifestyle influencer, real estate influencer, atau pet influencer. Tapi kebanyakan, orang akan berpikir kegiatan seorang influencer di dunia digital dilakukan oleh seorang wanita.

Kebanyakan influencer pria menolak untuk disebut influencer. Meskipun pekerjaan mereka seperti building brand, menggunakan # sponsor dari endorse, promoting product, dan lain-lain memenuhi standar definisi dari influencer. Mereka lebih prefer disebut dengan “digital content creator”  atau “content producer” atau contoh lebih spesifik lagi “gamer”. Alasannya, karena mereka menganggap diri mereka sebagai artis atau seniman, atau seorang konten kreator, atau bahkan karena sesimpel tidak menyukai sebutan influencer saja.

Terkadang sebuah kata bisa mempunyai impact sangat besar ketika diletakan dalam konteks dunia digital. Misalnya gini, coba deh cari tau nama jovi adhiguna, seorang “beauty influencer tapi cowo” nahh..bedakan lagi dengan seorang wanita yang streaming youtube bermain game misalnya kimi hime yang dijuluki “female gamers”

Jadi konotasi influencer yang biasanya wanita, dengan adanya cowo jadi anti-mainstream atau nyeleneh, begitu juga female gamers yang biasanya pria tapi begitu ada wanita terlihat sangat out of the box… misalnya lagi, arief muhammad, seorang infuencers pastinya.. Tapi dia lebih suka dipanggil content creator..begitu juga dengan raditya dika.

Ada studi yang menarik oleh Crystal Abidin, a digital anthropologist meriset internet celebrity pada mereka yang memanggil dirinya content creator, influencer, selebgram ataupun gamers. Ternyata penelitiannya mengatakan bahwa para wanita lebih suka dianggap oleh followers mereka sebagai influencer karena lebih terkesan selebritis alias selebgram dan sangat keberatan jika disamakan dengan kreator.

Sebaliknya, banyak pria yang menolak disebut influencers dan lebih nyaman dipanggil konten kreator karena dari riset itu mereka berpendapat bahwa mereka memproduksi sesuatu dan tak hanya menginfluence. padahal kita tahu influence itu juga memproduksi sesuatu.

Ternyata Crystal Abidin, a digital anthropologist tadi itu membuat kesimpulan bahwa ini karena persepsi diri perempuan dan laki-laki di dunia digital yang berbeda. Ini disupport oleh Brooke Erin Duffy dari Cornell University yang mempelajari behaviour social media and influencers. Seorang selebgram fashion yang perempuan biasanya memperlihatkan produk fashion dengan foto fisik mereka saat menggunakan produk fashion tersebut baru dishare ke instagram, tapi untuk selebgram fashion pria atau konten creator itu lebih banyak menggunakan foto produk flatlay ketimbang foto dirinya yang diupload ke instagram.

Kontennya sama. Yaitu baju yang sama sama mereka kenakan. Hanya perempuan memiliki mindset ingin menjadi bagian dari final foto produk,  seorang pria lebih banyak “memisahkan” diri mereka dari karya final produk dan menganggap diri mereka adalah “kreator”. Atau dengan kata lain pria tertarik kepada things, dan perempuan tertarik lebih kepada people atau koneksi dengan orang..

Menariknya gini, orang populer di instagram disebut influencer atau selebgram, tapi mereka yang populer di YouTube secara official disebut YouTube Creators..Nah, apalagi youtube memiliki youtube creator studio tempat untuk upload video ke YouTube dan ada youtube creator academy…tapi kalau dipikir-pikir wanita yang populer di YouTube dengan konten tutorial makeup yang subscribernya luar biasa besar seperti rachel goddard atau sarah ayu tentu lebih nyaman di panggil beauty influencer dan bukan creators padahal YouTube memakai istilah creators.

Nah jadi jelas ya, influencer dan content creator itu dua-duanya sama-sama memiliki influencer atau pengaruh dan juga keduanya harus bekerja keras untuk membuat konten yang baik.. Hanya perbedaannya adalah masalah gender divide atau persepsi gendernya aja

Lalu hubungannya apa sih dengan seorang yang memiliki onlineshop atau pebisnis online? Ini artinya anda dapat memilih tipe influencer marketing yang disesuaikan dengan target market anda.. Misalnya memberikan pada influencer fashion wanita tentu akan mendapatkan foto baju anda digunakan dengan pose foto yang cantik, tapi memberikan baju itu pada konten creator pria akan dapat berakhir pada jenis foto kreatif yang berbeda.

Jadi strategi marketer atau brand teman intropreneur dalam memasarkan produknya harus dilihat apakah lebih tepat menggunakan influencer atau kreator.

Bagaimana teman intropreneur, sudah mulai jelas tentang latar belakang influencer dan kreator? Sekian episode kali ini. Jika ada kritik, saran, dan pertanyaan bisa langsung aja ke instagram @yosefadjibaskoro atau @sekolahpebisnis. Ditunggu ya! ok kita ketemu di episode selanjutnya dari Igcast Intropreneur. Terima kasih uda stay tune. Yosef pamit, bye-bye.