KARTU UCAPAN TERIMA KASIH

Kabaikan itu seperti bumerang, selalu kembali ke asalnya.

Penulis Tak Diketahui

Berulang kali kita melakukan sesuatu yang positif atau mengatakan sesuatu yang baik, tetapi kita tidak melihat akibatnya pada orang lain. Kita mungkin telah mempraktikkan “bertindak baik secara acak,” tetapi kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi kemudian. Suatu kali, aku cukup beruntung menemukannya.

Aku baru saja pulang dari urusan bisnis ke wilayah Barat Laut Wisconsin sewaktu aku berhenti untuk mengisi bahan bakar dan membeli camilan dari gerai di pompa bensin jalan tol. Malam sudah larut, aku sudah lelah, dan hujan mulai turun, dan aku hanya ingin cepat-cepat sampai di rumah, tetapi rumahku masih dua jam perjalanan lagi. Aku merasa sedikit tak sabaran, dan punggungku pegal karena menyetir jauh.

Aku masuk ke dalam gerai untuk membeli keripik dan air minuman. Penjaganya tersenyum kepadaku, dan kami ngobrol sebentar. Aku tak ingat apa persisnya yang dia sampaikan, tetapi aku ingat akan kebaikan yang dia tunjukan kepadaku. Interaksi kami itu membuatku menjadi lebih riang, dan sewaktu aku kembali ke mobilku, senyum sudah menghiasi wajahku. Baik mobil dan perutku sudah terisi, tetapi yang lebih penting lagi, aku mersa segar kembali.

Kebaikan kecilnya itu terus saja membuatku bertenaga sepanjang perjalanan sampai ke rumah.

Minggu berikutnya, aku tengah merapikan dompetku, dan aku menemukan bon pembelian. Bon itu mengingatkan aku pada sikap ramah penjaga gerai itu, dan di bon itu tertera alamat gerai itu. Spontan saja aku memutuskan untuk menulis ucapan terima kasih kepada manager pekerja itu. Aku tidak biasa menulis kartu ucapan terima kasih—kecuali pada waktu pernikahanku, bahkan aku tak pernah menulis kartu-kartu ucapan syukur atau terima kasih—tetapi aku sudah tergugah untuk melakukan dorongan itu.

Awalnya, aku merasa agak canggung, bahkan merasa malu, untuk menuliskan ucapan terima kasih ke seorang manager pompa bensin, tetapi kusisihkan “perasaan-persaanku” untuk mendengarkan intuisiku. Kusampaikan kepada manager perempuan penjaga gerai itu apa yang baru saja kualami—bahwa kata-kata manis dan sikap peduli pegawainya begitu berarti bagiku, yang membuatku jadi bersemangat dalam perjalanan pulang. Hanya perlu waktu lima menit untuk menulis kartu ucapan itu dan menempelkan perangko ke amplop. Kumasukan surat itu ke dalam kotak pos, dan selesai sudah.

Begitulah, sampai seminggu kemudian, aku menerima ucapan terima kasih atas ucapan terima kasihku. Petugas itu—Robin namanya—menulis kepadaku. Akibat kartu ucapan terima kasih yang kukirim itu, dia menerima pujian dari managernya, sebuah pin penghargaan dari perusahaan, dan, yang lebih indah lagi, ada kenaikan gaji. Aku terpana, dan kartu ucapan terima kasih darinya itu membuat mataku basah. Kebikan Robin menginspirasiku untuk membalas sikap positifnya, dan inilah jadinya—reaksi berantai kecil kebaikan.

Di zaman yang sulit ini, penting sekali bagi kita menyebarkan kebahagiaan dan kegembriaan kapan dan di mana pun selagi masih bisa. Apakah itu sehelai kartu ucapan atau bahkan hanya dengan senyuman, suatu peraaan syukur menyebar sampai jauh. Lebih banyak orang yang mengeluh ketimbang berterima kasih, dan aku pernah mendengar bahwa dibutuhkan sepuluh kata-kata positif untuk mengatasi satu kata kasar. Kadang-kadang dibutuhkan upaya sadar diri kita untuk menyampaikan kata-kata positif ketimbang yang negatif, tetapi pengaruh riak kebaikan itu sangat kuat.

Bunda Teresa menyarankan kepada kita “lakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar.” Sering kali, bila melakukan hal-hal kecil, kita tidak melihat pengaruh kata-kata atau perbuatan baik kita itu, tetapi sering kali pula, kita beruntung mendapatkan hasil yang positif. Kalau ada satu hal yang kudapat dari menulis ucapan singkat itu, maka itu adalah menuruti dorongan untuk berbuat baik setiap kali terasa ingin melakukannya.

Kita tak pernah tahu apa yang mungkin muncul dari dorongan itu atau ke mana ia akan membawa kita.