Memahami Burnout Sebagai Pebisnis dan Cara Mengatasinya

Seperti yang teman intropreneur tahu, banyak orang belakangan ini mulai merintis bisnis startup mereka sendiri. Bersamaan dengan tren munculnya pebisnis perintis ini, mulai marak juga masalah pebisnis burnout.

https://www.davidicke.com/article/547680/students-pay-strangers-homework-help

Jadi gini teman-teman, burnout itu adalah Stress berkepanjangan yang efeknya itu sampai bisa menimbulkan penyakit fisik, jadi berbahaya juga kan. Sebab ini bukan hanya pusing di dalam pikiran atau hati yang terasa sesak karena tersakiti saja, tapi lebih jauh hingga menimbulkan efek pada tubuh dan fisik teman intropreneur. 

Yuk kita cari tahu bagaimana pebisnis bisa terkena burnout dan bagaimana cara mengatasinya dengan langsung merujuk pada hasil penelitian yang dijadikan tesis akademik dari seorang ahli psikoterapis di  Australian Institute of Business, Jade Barclay.

Teman intropreneur, di sini saya punya sebuah data statistik yang terjadi pada tahun 2020 yaitu diprediksi 50% tenaga kerja di Amerika Serikat dan saya yakin trend ini juga terjadi di dunia dan bahkan di Indonesia yaitu adalah freelancer atau yang mencoba bisnis sejenis lainnya. 

Coba bandingkan dengan jaman orang tua kita misalnya di tahun 1995, di mana statistiknya hanya kurang dari 10% tenaga kerja yang menjadi freelancer

Hal ini sebetulnya cukup menarik lho, kenapa? Jika kita hubungkan dengan topik burnout kita kali ini, banyaknya angka orang yang akan bekerja mandiri (entah jadi freelancer atau jadi pebisnis) sudah pasti pengalaman burnout nya akan berbeda dengan yang dialami para karyawan perusahaan.

Burnout atau yang simpelnya dalam ilmu psikologis disebut kelelahan kronis ini bisa dikatakan mirip. Ketika berbicara burnout dengan para pebisnis, isu yang berkembang adalah seputar kesehatan mental atau mindset, yaitu tentang bagaimana menghargai diri sendiri, dan bahkan burnout ini adalah salah satu alasan pebisnis melakukan bunuh diri. Memang realita ini sepertinya tidak bisa dihindari, sebab dengan makin banyaknya orang yang mulai menjadi pebisnis, meningkat pula secara signifikan risiko terkena burnout.

Employee vs Entrepreneur Burnout

Lalu emang ada bedanya ya antara burnout seorang karyawan dan pebisnis?

Sepertinya dari sejak kuliah saya juga pernah mengalami burnout. Nah begini teman intropreneur, kalau rasanya burnout memang antara karyawan dan pebisnis tidak berbeda, rasanya sama2 tidak menyenangkan. Tapi yang berbeda adalah sumber burnout atau alasannya.

Jadi begini,  sebagai karyawan sebuah perusahaan, umumnya burnout dialami karena adanya depersonalisasi atau tentang bagaimana sebuah koneksi keterhubungan dengan orang lain dirasakan dalam lingkungan kerja. Para karyawan ini merasakan hilangnya koneksi antar manusia satu dengan manusia lain di dalam kantor. Rasanya semua orang jadi dingin, kaku dan heartless. Hilang rasa kekeluargaan dan hubungan personal hanya karena ambisi dan berbagai macam hal yang sifatnya politis dan jabatan dalam sebuah perusahaan. Saya yakin kalau teman-teman intropreneur yang sudah mulai bekerja tahu apa yang saya deskripsikan barusan. Dan itu rasanya sangat tidak enak, di pagi hari berangkat ke kantor dan tahu di kantor anda akan mengalami hal itu. That is painful guyss!

Oke, tapi bagaimana nih dengan burnout pada entrepreneur atau pebisnis? Ternyata bedanya adalah jika burnout pada entrepreneur lebih berat merupakan gejala pada fisik. Ada beberapa gejala kognitif yang muncul pada tubuh seperti susah fokus ataupun ide yang buntu, dan hal-hal semacam itu dan jika seorang pebisnis sudah terkena gejala seperti ini, umumnya mereka akan mengeluhkan tentang tubuhnya yang sudah lelah dan tidak bisa diajak kerja lagi. 

Memang ada juga faktor lelah, jenuh, ingin melakukan sesuatu yang berbeda, dan kurangnya gairah untuk menghadapi tantangan adalah hal yang sering dialami para pebisnis pemula ataupun yang sudah lama berbisnis.

Tapi apa yang muncul pada karyawan biasanya adalah bersumber dari pikiran, sementara burnout pada pebisnis mayoritas berasal dari gejala fisik dan ini menurut riset dari Jade Barclayber seorang ahli psikoterapis adalah karena karyawan dan pebisnis memiliki relasi yang berbeda dengan pekerjaannya atau yang mereka lakukan tiap harinya.

Jadi begini maksudnya, pebisnis dan karyawan itu pastinya kan punya hubungan yang sangat berbeda terhadap penggunaan waktu, keputusan, dan dalam hal kendali atau kontrol dalam hidup sehari-hari. Iya kan?

Maksudnya gimana?

Oke, misalnya yaitu perbedaan pebisnis dan karyawan dari hal waktu saja.

Pada situasi seorang karyawan, elemen waktu itu banyaknya bukan ditentukan oleh ia sendiri melainkan oleh orang lain atau dalam hal ini perusahaan. Setuju ya? Apalagi kalau sekarang teman intropreneur sudah ada yang bekerja jadi karyawan, pasti ingat dong jam berapa harus bangun pagi untuk berangkat ke kantor, dan jam berapa juga boleh pulang ke rumah dari kantor. Saat tanda tangan kontrak, pastinya otomatis mayoritas semua waktu tersebut, bukan lagi dalam kuasa sang karyawan, melainkan sudah diatur oleh perusahaan yang punya otoritas. 

Disini burnout terjadi saat karyawan ingin memiliki kendali penuh dalam menentukan waktu mereka terutama ingin bisa langsung istirahat ketika memang membutuhkan waktu istirahat, ingin bisa makan ketika lapar tanpa harus menunggu waktunya istirahat yang mungkin masih satu, dua, atau tiga jam ke depan.

Hal-hal seperti itu saya yakin diinginkan teman intropreneur yang saat ini bekerja. Mereka juga ingin bisa secara leluasa misalnya menelpon pacar atau keluarga ketika memang ada kondisi darurat, tanpa harus menundanya selama berjam-jam atau berhari-hari. Atau sesimpel ingin tidur siang saat lelah, bukan tak mau bekerja, tapi ingin istirahat sebentar saja. 

Bahkan menurut riset, salah satu hal terbesar yang mendorong para karyawan untuk masuk ke dunia bisnis adalah mereka termotivasi untuk punya lebih banyak waktu bersama keluarga dan orang-orang terdekat. Jadi ini sumber burnout sebagai seorang karyawan.

Kedua, yang membuat perbedaan point burnout adalah masalah pengambilan keputusan yang berbeda sebab ketika kita bicara tentang menjadi pebisnis, kita harus menghadapi fakta bahwa menjadi seorang pebisnis adalah tentang bagaimana membuat sejuta keputusan di tangan teman intropreneur sendiri. Mulai dari pagi ingin bangun jam berapa? Mau pakai baju seperti apa? Mau makan apa? Mau fokus ke pekerjaan seperti apa? Semua unlimitless.

Beda banget dengan karyawan. Beda bukan beda lebih baik dari karyawan ya, tapi beda titik burnout nya yang biasanya tidak dialami karyawan. Urusan memilih atau mengambil keputusan yang sebelumnya tidak ada ketika kita masih jadi karyawan, semua sekarang ada di tangan kita sendiri. Ada yang namanya big decision dan micro-decision

Mungkin teman intropreneur yang karyawan bilang “Gak juga ah mas, aku karyawan, dan keputusan yang kuambil setiap harinya itu bikin pusing mas dan ngak simpel loh..”

Yes teman intropreneur, saya tidak bilang kalau anda itu tak ada sama sekali keputusan yang harus diambil dan seringnya malah justru keputusan yang anda ambil itu besar-besar mengenai langkah perusahaan atau tim tempat anda bekerja yang impact nya  besar. Tapi lebih sedikit micro-decision yang harus anda ambil, yang sebetulnya micro decision yang unlimited itu membuat seorang pebisnis bisa jadi mudah burnout.

Sebab semuanya nampak sangat banyak sehingga kadang memenuhi sistem kapasitas diri kita sendiri. Teman intropreneur juga pernah merasakan hal demikian ketika masa awal merintis bisnis? Hal-hal tersebut harus di-manage secara sadar dan aktif.

Masalahnya, hal itu tidaklah mudah. Harus ada keseimbangan antara otoritas dan kebebasan. Ada orang yang bertahun-tahun menjadi karyawan tanpa bisa menentukan atau mengambil keputusan sendiri terutama micro decision itu, kini tiba-tiba semua tanggung jawab tersebut dibebankan di pundak kita. Ini merupakan tantangan yang besar untuk bisa terbiasa dengan hal baru tersebut. Kebebasan untuk memilih semua hal yang unlimited itu membuat seorang pebisnis seolah memiliki beban untuk memilih di antara sekian banyak pilihan. 

Hal seperti itulah yang persis harus dilakukan oleh seorang pebisnis. Membuat pilihan mikro itu simpel. Ketika kita dihadapkan pada banyak pilihan dan kemudian merasa terbebani untuk memilih, kita bisa menyingkirkan beban tersebut dengan template. Ini alasannya Steve Jobs selalu menggunakan baju warna hitam dan jeans dan begitu juga dengan para pebisnis kelas dunia lainnya. Kita harus merubah sudut pandang kita selama ini ketika sudah menjadi seorang pebisnis, dengan demikian kita juga akan terbebas dari pola lama yang tidak menguntungkan bagi kita.

Tapi yang luar biasa unik, setelah saya membaca isi riset dari seorang ahli psikoterapis Jade Barclay dari Australia itu, menurut penelitiannya, banyak karyawan di tempat kerja yang merasa terasing dibandingkan dengan mereka yang menjadi pebisnis. 

Mungkin teman intropreneur yang saat ini bekerja merasakan juga, banyak orang di sekeliling kita tapi tidak ada satupun yang bisa kita mintai pertolongan ketika dibutuhkan. Untuk itu, kita harus selalu berpura-pura tegar pasang wajah kuat. Hal ini membuat mereka makin terisolasi dibandingkan bekerja independen dari rumah sebagai freelance. Berdasarkan latar belakang seperti ini, banyak dari para karyawan yang kemudian menjadi pebisnis merancang support sistem sosial mereka, komunitas mereka dan teman bisnis mereka yang auranya positif untuk hidup mereka.

Oke, jadi ada beberapa tips dari ahli psikoterapis Jade Barclay untuk mengatasi burnout pada pebisnis terutama karena biasanya seseorang tak sadar bahwa ia sedang mengalami burnout.

Jadi identifikasi segera, karena ketika seseorang mulai terserang burnout, hal tersebut umumnya tidak disadari. Para korban burnout itu cenderung cuek pada pengalaman perasaan dan tubuh mereka, supaya apa? Hanya supaya bisa menyelesaikan pekerjaan mereka tepat waktu. 

Justru ini membuat burnout semakin parah dan makin gampang menyerang tubuh mereka di waktu berikutnya. Setiap kali kita (atau mereka) mengabaikan apa yang dirasakan oleh pikiran dan tubuh, kita membangun dinding yang membatasi antara kita dan diri kita sendiri. Semakin sering pengabaian itu dilakukan, semakin tebal pula dinding yang memisahkan kita dengan diri kita sendiri, dengan jati diri kita sendiri. Hingga akhirnya suatu hari kita kolaps. Tanpa peringatan atau tanda-tanda, yang sebetulnya hadir tapi terus menerus kita abaikan.

Jadi saran saya adalah berlatih setiap hari untuk lebih mengkoneksikan diri dan mengetahui apa yang sedang terjadi kepada diri sendiri. Ambil momen untuk reconnect dengan diri anda di pagi atau malam hari. 

Atau jika sangat sibuk, maka pada momen ketika teman intropreneur lapar atau lelah, atau ketika ingin melakukan panggilan telepon kepada orang lain tapi tidak bisa melakukan itu semua karena sedang dalam jam kerja, tarik napas dalam-dalam kemudian buat pilihan secara sadar bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi yang tak mengenakkan lalu ingatkan it’s okay, saya akan melakukannya kemudian. 

Jangan abaikan tapi kita bisa memilih antara melakukan hal yang ingin dilakukan sekarang juga atau menunda sementara sampai pekerjaan anda selesai. Itu lebih baik dibandingkan kebiasaan mengabaikan impuls yang sedang terjadi di dalam diri. Hal tersebut secara langsung mencegah bibit-bibit burnout muncul pada diri kita. Seolah kita mendapat pesan atau tanda sedari awal, sebelum burnout datang secara tiba-tiba mengetuk pintu dan akhirnya tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mencegah itu semua.

Lalu, hal kedua yang bisa teman intropreneur lakukan adalah mengelola waktu. Hal yang tepat adalah dengan mengelola waktu berdasarkan energi, bukan urgensi. Jadi begini, menjadi pebisnis itu, kita punya salah satu kemewahan yaitu bisa punya kontrol lebih atas semua waktu kita. Tapi seperti kita bahas tadi, itu bisa membuat kita kewalahan.

Jadi singkirkan semua pilihan yang tidak perlu, seperti apa yang akan kita makan ataupun minum. Tentukan semuanya sedari awal buat template nya, “Oke hari ini saya akan makan blab la bla” kemudian siapkan itu semua sehingga nanti pada waktunya makan, kita bisa langsung mengeksekusinya.

Tentukan semuanya lebih awal. Kemudian kelola waktu anda berdasarkan energi, dan bukan urgensi yang akan terbukti bahwa hal tersebut sangat berharga.

Misalnya begini yang paling kontroversial, semua orang ingin punya waktu libur selama 20 minggu untuk menyeimbangkan antara pekerjaan dan kehidupan seperti halnya cuti kantor. Tapi jika sebagai seorang pebisnis, kita tidak perlu work-life balance. Kita cinta dengan pekerjaan kita. Yang kita butuhkan adalah brain-life balance. Kita jarang istirahat saat membangun bisnis apalagi bisa cuti atau doing weekends, karena itu kita butuh cara yang tepat untuk mengelola waktu kita, bagaimana kita mengelola komunikasi kita dengan diri sendiri dan orang lain adalah dengan bersikap terbuka kepada pikiran dan tubuh kita. Agar bisa mencapai brain-life balance, kita memerlukan istirahat yang cukup. 

Karena segala hal yang kreatif dan menakjubkan dapat diciptakan ketika teman intropreneur memiliki waktu istirahat yang cukup.

Sebagai pebisnis bagilah hari anda menjadi zona energi dimana di pagi atau siang hari sebelum makan siang, ketika energi kita di level medium, lakukan beberapa hal ringan seperti belajar atau meriset. Hal-hal yang membutuhkan konsentrasi panjang, tapi kita tidak harus mengevaluasi ataupun mengambil keputusan. Karena kita cukup mencerna tanpa harus membuat pilihan.

Ketika energi kita di level low, lakukan beberapa pekerjaan yang berulang, atau yang beritme. Kegiatan yang beritme seperti ini sifatnya selalu menenangkan. Sebagai contoh, kita bisa bermain tenis, pingpong atau bermain permainan lain dengan orang lain. Kegiatan ini dapat membantu koneksi di dalam otak, dan membuat kita lebih terhubung dengan diri kita sendiri. Atau kegiatan produktif dengan low energi seperti menghapus inbox email atau merapihkan data di lemari juga bisa dilakukan ketika energi kita sedang low.

Dengan membagi kegiatan kita berdasarkan energi, seorang pebisnis jadi mampu memaksimalkan waktu yang ada. Karena sebagai pebisnis, kita dibutuhkan untuk terus “on”. Kita harus memikirkan bisnis kita 24/7 tiap waktu, menentukan apa yang harus kita lakukan selanjutnya. Berbeda dengan karyawan yang setelah jam 5 sore bisa “off” ketika mereka pulang dari kantor. Sebagai pebisnis, kita tidak punya kemewahan itu.

Nah ada satu teknik lagi yang bisa teman intropreneur lakukan dalam mengelola waktu, yaitu dengan mencoba tehnik Podomoro, saya juga menerapkan hal ini karena efeknya sangat positif. Jadi caranya adalah singkirkan pekerjaan kita selama lima menit setiap sejam atau setengah jam. Kemudian lakukanlah sesuatu selama waktu tersebut ketika kita sedang tidak bekerja. Kalau saya senang untuk membuat kopi, jalan-jalan sambil meregangkan badan misalnya. Kita juga bisa menyingkir dari pekerjaan setiap dua hari sekali atau seminggu sekali. 

Untuk skala harian atau mingguan, mungkin teman intropreneur bisa mencoba berbagai hal favorit. Misalnya dengan pergi berseluncur, berenang di pantai, atau naik gunung. Kalau teman intropreneur punya hobi musik, berlatihlah bersama band setiap dua kali seminggu. Koneksikan kembali diri dengan alam, hal ini sangat-sangatlah penting dan juga indah untuk dilakukan.