MEMASUKI ZONA SYUKUR

Bila ingin mengubah hidupmu, cobalah mengubahnya dengan rasa syukur. Rasa syukur akan mengubah hidupmu dengan cara yang luar biasa.

GERALD GOOD

Satu demi satu kami menulis di atas kartu indeks berukuran 3×5, lalu menempelkannya di pintu lemari di depan ranjang suamiku dirawat di rumah sakit. Di atas kartu paling atas tertulis “Kasih Tuhan”, di atas kartu lainnya “Pagi hari yang baru”.

Ketika itu hari perayaan Thanksgiving Day 2011, dan aku dan suamiku sedang  merayakan hari libur berdua saja di ruangan rumah sakit. Dia sudah dirawat di rumah sakit beberapa minggu sebelumnya setelah penyakit AML (Acute Myeloid Leukemia) yang diidapnya kambuh. Anak-anak kami yang sudah dewasa, yang tinggal bersama kami satu jam lebih perjalanan teman-temannya di kampung halaman kami satu jam lebih perjalanan ke arah utara.

Pagi-pagi sekali hari itu, sewaktu aku bersiap meninggalkan rumah untuk berangkat ke rumah skait, aku diam-diam menyesali betapa kami tidak akan berkumpul sekeluarga; perayaan hari Thanksgiving kali ini tidak akan menjadi seperti  yang kami harapkan. Bayangan kecemasan tentang kesehatan suamiku menghantui hari itu. Namun, aku punya ide!

Aku cepat-cepat pulang ke rumah untuk mengumpulkan bahan-bahan dan mencetaknya di komputer. Sewaktu melakukannya, aku merasa sikapku berubah dan perasaan berharap dan syukur menggantikan pikiran-pikiran yang lebih gelap.

Kemudian pagi itu aku datang ke ruangan suamiku dan mengambil tanda yang sudah kucetak. “Kami mendeklarasi ruangan ini sebagai ‘Thankful Zone (Zona Syukur).” Kutempelkan tulisan itu di pintu bagian luar, sehingga dapat dilihat oleh siapa pun yang memasuki ruangan itu. Bunyinya , “Anda memasuki ‘Thankful Zone’. Tiket masuknya adalah Sikap Syukur.”

Aku menyerahkan pena dan beberapa lembar kartu ukuran 3×5 yang sudah kubawa, dan kami terus merenungkan untuk apa saja paling bersyukur. Daftarnya makin bertambah panjang setelah sehari.

“Harapan”, “Iman”, dan “Kasih” ada di daftar teratas. “Teman-teman baik” dan “Keluarga tersayang” juga mendapatkan tempat terhormat .

Suamiku, yang tidak dapat meninggalkan ruangan perawatan rumah sakit, menulis bahwa dia merasa bersyukur atas “Sinar matahari,” atas “Malam-malam tanpa bulan, sehingga bisa melihat lebih banyak bintang” dan atas “Bau udara setelah hujan.”

Dia tertawa, tetapi  sepenuh hati setuju sewaktu aku menambahkan “obat-obatan anti mual” dan nama obat bius yang diberikan kepadanya setiap kali menjalani biopsi tulang.

Ada sesuatu yang terjadi sewaktu kami menambahkan daftar baru. Kami jadi bisa mundur dari ketakutan pada karakter dan melihat bahkan di tengah kesulitan masih ada karunia. Di antara berbagai kurnia itu terdapat “Tawa,” “Musik” dan di atas segalanya “kehadiran kami semua untuk yang lain.”

Sikap kami berubah itu memengaruhi segala sesuati di sekitar kami. Kami bahkan bisa merasa bersyukur atas hidangan makan malam kalkun dan isinya dari rumah sakit yang enak dan tangan-tangan yang telah mengolahnya. Kami menangkap karunia dari para perawat dan dokter yang luar biasa yang merawat suamiku.

Di pengunjung hari, pintu lemari itu penuh dengan pesan pengingat berbagai hal yang patut kami syukuri. Tidak, kami belum bisa merayakan tradisi hari Thanksgiving bersama keluarga dan teman-teman, tetapi kami sudah mengalami satu hari yang berlimpah dengan rasa syukur. Berbagai hal sederhana seperti “Air mandi hangat” dan “Berdansa dengan yang terkasih” bisa membuat hidup menjadi perjalanan menyenangkan secara tiba-tiba.

Satu demi satu kami menulis di atas kartu indeks berukuran 3×5, lalu menempelkannya di pintu lemari di depan ranjang suamiku dirawat di rumah sakit. Di atas kartu paling atas tertulis “Kasih Tuhan”, di atas kartu lainnya “Pagi hari yang baru”.

Ketika itu hari perayaan Thanksgiving Day 2011, dan aku dan duamiku sedang  merayakan hari libur berdua saja di ruangan rumah sakit. Dia sudah dirawat di rumah sakit beberapa minggu sebelumnya setelah penyakit AML (Acute Myeloid Leukemia) yang diidapnya kambuh. Anak-anak kami yang sudah dewasa, yang tinggal bersama kami satu jam lebih perjalanan teman-temannya di kampung halaman kami satu jam lebih perjalanan ke arah utara.

Pagi-pagi sekali hari itu, sewaktu aku bersiap meninggalkan rumah untuk berangkat ke rumah skait, aku diam-diam menyesali betapa kami tidak akan berkumpul sekeluarga; perayaan hari Thanksgiving kali ini tidak akan menjadi seperti  yang kami harapkan. Bayangan kecemasan tentang kesehatan suamiku menghantui hari itu. Namun, aku punya ide!

Aku cepat-cepat pulang ke rumah untuk mengumpulkan bahan-bahan dan mencetaknya di komputer. Sewaktu melakukannya, aku merasasikapku berubah dan perasaan berharap dan syukur menggantikan pikiran-pikiran yang lebih gelap.

Kemudian pagi itu aku datang ke ruangan suamiku dan mengambil tanda yang sudah kucetak. “Kami mendeklarasi ruangan ini sebagai ‘Thankful Zone (Zona Syukur).” Kutempelkan tulisan itu di pintu bagian luar, sehingga dapat dilihat oleh siapa pun yang memasuki ruangan itu. Bunyinya , “Anda memasuki ‘Thankful Zone’. Tiket masuknya adalah Sikap Syukur.”

Aku menyerahkan pena dan beberapa lembar kartu ukuran 3×5 yang sudah kubawa, dan kami terus merenungkan untuk apa saja paling bersyukur. Daftarnya makin bertambah panjang setelah sehari.

“Harapan”, “Iman”, dan “Kasih” ada di daftar teratas. “Teman-teman baik” dan “Keluarga tersayang” juga mendapatkan tempat terhormat .

Suamiku, yang tidak dapat meninggalkan ruangan perawatan rumah sakit, menulis bahwa dia merasa bersyukur atas “Sinar matahari,” atas “Malam-malam tanpa bulan, sehingga bisa melihat lebih banyak bintang” dan atas “Bau udara setelah hujan.”

Dia tertawa, tetapi  sepenuh hati setuju sewaktu aku menambahkan “obat-obatan anti mual” dan nama obat bius yang diberikan kepadanya setiap kali menjalani biopsi tulang.

Ada sesuatu yang terjadi sewaktu kami menambahkan daftar baru. Kami jadi bisa mundur dari ketakutan pada karakter dan melihat bahkan di tengah kesulitan masih ada karunia. Di antara berbagai kurnia itu terdapat “Tawa,” “Musik” dan di atas segalanya “kehadiran kami semua untuk yang lain.”

Sikap kami berubah itu memengaruhi segala sesuati di sekitar kami. Kami bahkan bisa merasa bersyukur atas hidangan makan malam kalkun dan isinya dari rumah sakit yang enak dan tangan-tangan yang telah mengolahnya. Kami menangkap karunia dari para perawat dan dokter yang luar biasa yang merawat suamiku.

Di pengunjung hari, pintu lemari itu penuh dengan pesan pengingat berbagai hal yang patut kami syukuri. Tidak, kami belum bisa merayakan tradisi hari Thanksgiving bersama keluarga dan teman-teman, tetapi kami sudah mengalami satu hari yang berlimpah dengan rasa syukur. Berbagai hal sederhana seperti “Air mandi hangat” dan “Berdansa dengan yang terkasih” bisa membuat hidup menjadi perjalanan menyenangkan secara tiba-tiba.