Pebisnis itu Harusnya Fleksibel atau Go With The Flow sih? Ini Dia Bedanya.

Ada sebuah cerita tentang 2 orang yang merupakan analogi yang bagus untuk membedakan antara fleksibel dan going with the flow.

Ada seorang pria bernama Eko dan dia adalah seorang yag memiliki pekerjaan sebagai seorang staff marketing disebuah perusahaan terkemuka dan sudah bekerja selama 5 tahun di sana. Ia menikmati pekerjaannya, tapi akhir-akhir ini parahnya Eko merasa telah menjual jiwanya kepada perusahaan tersebut. Sebab dia merasa semakin hari semakin kurang mendapat apresiasi untuk kerja dan pencapaiannya. Dia bukanlah orang malas, bahkan Eko adalah karyawan teladan: punya skill analisis yang tajam dan selalu memenuhi target dari perusahaan. Tapi, seakan semua pencapaiannya seperti kurang terus di mata perusahaan. Kalau teman-teman di posisi Eko bagaimana kira-kira yang akan teman-teman lakukan? Eko akhirnya memutuskan untuk menentukan tujuannya sendiri, keluar dari pekerjaan dan memegang kendali penuh atas masa depannya.

Orang kedua adalah sahabat dekat Eko di SMA, juga memiliki cerita yang kurang lebih mirip dengan Eko. Mamat bekerja di perusahaan finansial yang memberikan pinjaman. Nah di sana pun Mamat adalah salah satu karyawan terbaik perusahaan dan selalu rajin bekerja. Tapi yang berbeda, ia tidak pernah punya target atau tujuan yang ingin dicapai dan menganggap pencapaiannya yang sukses sebagai hal yang biasa saja. Tapi karena keadaan perusahaan, maka Mamat yang memiliki keahlian mengelola keuangan, dan mencoba jual beli saham berencana merintis karir di luar dunia kerja sebagai full time trader.

Jadi ternyata kedua sahabat itu akhirnya memang keluar dari pekerjaan dan mengambil keputusan untuk mengontrol hidup mereka secara penuh, percaya bahwa mereka bisa menyediakan hidup yang layak untuk keluarga masing-masing dengan cara mereka sendiri. Eko memulai firma konsultasi bisnisnya sendiri, sementara Mamat menjadi trader di pasar bursa saham. Nah yuk lihat apa yang terjadi pada mereka setelah keduanya keluar kerja.

Ternyata inilah yang terjadi pada Eko dan Mamat,

Meskipun mereka adalah dua orang yang berbeda dan memiliki banyak kesamaan; ingin bekerja dengan cara mereka sendiri, ingin menghasilkan hidup yang lebih baik untuk diri sendiri dan keluarga, memiliki kemampuan dan etos kerja yang baik untuk mencapai prestasi, serta ingin memberikan impact untuk sekitarnya dengan cara terbaik menurut masing-masing yang adalah versi sukses dan bahagia mereka. Tapi ternyata ada lho perbedaannya..

Selain berbeda nama ya, dari cerita tadi ada bedanya, apakah anda memperhatikan? Begini bedanya…

Perbedaan besarnya adalah antara menjadi fleksibel dan go with the flow dan kuncinya adalah punya tujuan. Punya rencana apapun itu adalah sesuatu yang VITAL untuk menggerakan teman pebisnis dari satu titik ke titik yang lainnya. Si Eko punya tujuan jelas tapi si Mamat take it for granted, artinya tak punya target dan kalau kebetulan sukses pun ya biasa saja jadinya karena tak pernah mengejar juga.

Contohnya begini: Jika teman pebisnis ingin menuju ke suatu restoran, tapi tidak tahu di mana letaknya, lebih praktis dan mudah menggunakan Google Maps bukan?

Nah, untuk bisa mencapai ke tempat tujuan, sangat penting bagi maps untuk mengetahui di mana posisi teman pebisnis terlebih dahulu, untuk memudahkan memberikan arahan ke tempat yang dituju.

Disini kita harus memiliki dua kunci penting sebelum memulai segala sesuatu : 1. Di mana posisi teman pebisnis sekarang berada, dan 2. Ke mana tempat tujuan teman pebisnis.

Cukup paham ya? Tapi dimana bedanya antara fleksibilitas dan go with the flow? Apalagi sepertinya, saya sudah punya tujuan kok.

Coba yuk kita lihat lagi. Sebagai contoh, jika sudah ingin bisnis buka toko baju, tapi tidak laku, apa yang akan kita lakukan? Banyak dari kita yang belum setahun sudah tutup lagi. Tapi disini harus fleksibel. Nah apa maksudnya fleksibel? Fleksibilitas ini  memungkinkan teman pebisnis untuk mengambil jalan alternatif untuk menuju tujuan yang sama. Kembali ke contohnya dalam menemukan restoran tadi dengan maps. Mungkin teman pebisnis pernah ketika berangkat dari rumah, berencana untuk makan wagyu steak. 

Tapi di tengah jalan, ketika melihat sebuah restoran pizza dengan menu yang belum pernah dilihat sebelumnya yang ternyata terasa spesial karena ada tetesan keju mozzarella yang meleleh melumeri pizza itu, langsung hati teman pebisnis penasaran dengan menu itu padahal awalnya ingin makan wagyu steak. Bolehkah seperti itu? Boleh saja, tidak salah kok, tujuan besarnya tetaplah ingin makan keluar.

Seperti toko baju, jika belum laku ya jangan ditutup. Usaha dulu, test jenis baju lainnya, ubah menyesuaikan dengan gaya dan umur. Hingga tujuan punya toko baju tercapai. 

Begitu ya teman-teman.

Sekarang, apakah teman-teman masih ingat dengan dua sahabat tadi? Eko dan Mamat?

Ternyata akhirnya Mamat gagal dalam usahanya menjadi trader di bursa saham. Hal tersebut dikarenakan ia tidak memiliki tujuan yang jelas dalam rencananya. Jangan heran bahwa walaupun sama cerdas dan rajinnya tapi itulah hal negatif yang mempengaruhinya sehingga ia gagal menjadi seorang trader penuh waktu/full time trader.

Padahal tadi, kalau teman pebisnis masih ingat, Mamat memiliki skill dan knowledge yang luas dalam masalah finansial yang bisa membuatnya sukses. Sebab kuncinya hanya satu. Jika tak punya tujuan yang jelas, lalu apakah hal yang bisa menjadi indikator untuk memberi tahu bahwa ia telah mencapai kesuksesan? Tidak ada kan? Nah ini bahayanya. Tujuan Mamat hanyalah untuk membuatnya memiliki “banyak” uang dan tidak di breakdown lagi menjadi tujuan yang terukur dalam jangka pendek. Yang Mamat lakukan ini adalah go with the flow alias lihat saja hidup mau mengalir kemana. Janganlah seperti ini. Jika ada teman pebisnis yang cara hidupnya masih seperti ini, ubahlah sekarang juga!

Lalu harusnya gimana Mas Yosef?

Saran dari saya, sebaiknya Mamat mencatat tentang target dan tujuannya lebih spesifik lagi.

Misalnya begini, berapa hari dalam seminggu ia harus melakukan perdagangan saham, berapa banyak uang yang harus ia keluarkan untuk investasi, berapa bagian yang harus ia sisihkan untuk masa pensiun, dan sebagainya. Ia juga perlu merencanakan berapa income yang bisa didapat dan pengeluaran untu keperluannya sehari-hari.

Targetnya untuk mempunyai “banyak” uang di bank, tidak membantunya sama sekali karena siapa sih yang targetnya bukan ingin punya banyak uang di bank? Saya juga mau, dan saya yakin teman pebisnis juga mau bukan? Pastinya ya.

Oke, ternyata sebaliknya, Eko tahu cara untuk menjadi sukses. Ia mempunyai tolak ukur yang jelas untuk bisnisnya. Luar biasa karena Ia melakukan 10 panggilan telepon per hari dan mengirim 100 email penawaran ke potensial klien dalam 6 bulan pertama. Ia punya tujuan untuk melihat perkembangan bisnisnya dalam 1 tahun, 5 tahun, dan 10 tahun mendatang. Ia punya target berapa banyak klien yang bisa dimilikinya dalam waktu 5 tahun dan berapa banyak karyawan yang bisa direkrut untuk membantu usahanya. Top! Inilah namanya sebuah tujuan yang spesifik.

Jadi, Eko mengerti bahwa perusahaannya 10 tahun mendatang jelas akan berbeda dengan kondisi di hari ini. Memiliki rencana dan membuat jalan yang tepat untuk mencapai target tersebut akhirnya akan mengantarkan Eko ke hal yang selama ini dia impikan: kesuksesan dan kebahagiaan. Ini adalah fleksibel, walalupun keluar kerja, tapi tujuannya jelas mau apa dan memutar ataupun mengambil jalan lainnya tak mengapa karena ia mengetahui tujuan akhirnya.