PENGHARGAAN YANG ADIL

Dia menaklukan yang bertahan.

PERSIUS.

“Aku tak akan menghadiri upacara pemberian penghargaan tahun ini! Tolong jangan paksa aku.” Aku duduk dengan putriku ketika sarapan pagi di acara pemberian penghargaan SMA. Kami sudah mempertikaikan ini setiap kali ada upacara pemberian penghargaan ini, sejak dia menyimpulkan bahwa betapapun kuatnya dia berusaha, dia tidak akan memenangkan penghargaan itu.

Namun, tahun ini, aku mengetahui yang tidak diketahuinya. “Oh, Tori, ini kan tahun terakhirmu. Aku melihat… sepucuk surat dari POMG. Temanmu Jesse akan mendapatkan penghargaan. Kau harus hadir untuk memberinya dukungan.”

Putriku memandangku dengan salah satu pandangan khas remaja, tetapi begitu berjalan keluar dari pintu pagi itu dia dengan enggan mengiyakan untuk menghadiri upacara itu.

Putriku yang manis dan hebat ini luar biasa cerdas tetapi mengidap disleksia yang amat parah sehingga dia baru bisa membaca dan menulis dengan lancar pada usia dua belas tahun, dan dia masih menulis dengan lancar pada usia dua belas tahun, dan dia masih saja berjuang untuk menyampaikan maksudnya secara padu lewat tulisan. Setiap ibu tentunya merasa anaknya berhak mendapat penghargaan, tetapi aku tahu bahwa bila ada penghargaan yang diberikan untuk kerja keras dan sikap “pantang menyerah,” Tori tidak akan ada tandingannya. Dia tak akan pernah menyerah, bahkan pada masa-masa sulit ketika kami dengan panik mencari pertolongan untuk membantunya, mencemaskan dia tidak akan bisa lulus dari SMA, apalagi kuliah.

Sewaktu anak-anak lain latihan menyanyi atau drama atau bermain usai sekolah, Tori dengan tekun mengikuti program perlajaran khusus, berjam-jam setiap minggu untuk membuat otaknya yang kacau memahami kata-kata tertulis. Dia mengorbankan liburan musim panas dan liburan Natal demi menuntaskan berbagai program yang diperuntukan bagi penderita disleksia. Setiap program membantunya sedikit dan memungkinkannya menyelesaikan sekolah menengah umum dan diterima kuliah.

Namun, sayangnya sesuatu yang tak pernah dapat dia raih adalah penghargaan dari sekolah, dan kami harus menanggungkan banyak hari yang menyedihkan setelah upacara-upacara seperti itu.

Setelah dia berangkat dari rumah, cepat-cepat aku berpakaian dan memeriksa lagi surat yang dikirimkan sekolah kepadaku. Surat itu adalah surat undangan ke acara pemberian penghargaan, yang hanya dikirimkan kepada para orangtua siswa-siswa yang akan menerima penghargaan. Sikapnya yang positif dan bersemangat, yang sering kali menyemangatiku dan suamiku dan ketika perjuangan membuat kami putus asa, akhirnya terbayar, dan aku akan di sana untuk menyaksikannya.

Sewaktu berjalan menuju sekolah pada pagi hari bulan juni yang gerah, aku memikirkan bagimana caranya agar aku bisa masuk kedalam tanpa sepengetahuannya. Aku tidak ingin membocorkan kejutan ini! Sewaktu mendekat ke tempat parkir sekolah, dapat kudengar suara gaduh para remaja yang sedang bergembira. Aku mencari-cari di antara lautan jubah wisuda berwarna biru, pakaian wajib bagi para peserta wisuda, tetapi syukurlah aku tidak melihatnya. Aku bergegas memasuki auditorium yang terasa jauh lebih sejuk dan cepat-cepat duduk di barisan paling depan di belakang para siswa wisuda akan dibariskan.

Mereka semua akan berbaris beberapa saat lagi, dan tentu saja, di auditorium dengan kapasitas 800 tempat duduk ini, dia akan duduk persis di depanku! Dia melihatku sedetik setelah aku melihatnya. Dan ketika aku merasa kejuatan itu sudah bukan lagi kejutan, dia berkata, “Oh, kau juga disini untuk mendukung Jesse. Baik sekali.” Ini adalah acara pemberian penghargaan kelulusan yang pertama bagi kami, jadi dia tidak tahu bahwa para orangtua pun diundang.

Acara pemberian penghargaan itu terasa berjalan lambat sampai memasuki acara pemberian penghargaan Eleanor Shipler Award, yang diberikan kepada siswa yang telah berprestasi dan menunjukan upaya luar baisa dalam pelajaran bahasa Inggris. Dan pemenangnya adalah Tori!  Sewaktu dia menoleh untuk memandangku, perasaan kaget dan senang di wajahnya membuat setiap jam kerja kerasa kami menjadi terasa sepadan. Dia naik ke atas dan menerima penghargaan itu dengan wajah berbinar-binar. Ketika sudah duduk kembali memegang sebuah amplop, dia bertanya apakah aku sudah tahu sebelumnya, kujawab bahwa aku tahu dia dapat penghargaan—tapi bukan untuk bahasa Inggris! Upacara itu berlanjut, dan akhirnya, dia ternyata juga mendapatkan penghargaan kedua untuk karyanya sebagai anggota kru teknik belakang panggung drama.

Ternyata, baru kutahu kemudian dari keluarga Shipler, prenghargaan itu dirancang oleh Eleanor,seorang mantan guru bahasa Inggris, untuk siswa yang persis seperti Tori—bukan murid yang diatas rata-rata, melainkan yang mencoba sekuat tenaga dan mencurahkan upaya untuk meningkatkan penguasaan bahasa Inggrisnya. Aku merasa sangat bangga.

Aku memotret sebanyak-banyaknya di luar dan kemudian, supaya tidak terlalu memalukannya, menyelinap dari keramaian para siswa senior yang dengan bersemangat berpartisipasi dalam pesta tahunan di kolam renang setelah itu. Sewaktu sedang berjalan, aku mendengar seruan “Ibu!” karena bukan satu-satunya ibu di antara keramaian itu, kuacuhkan suara itu, sampai kudengar suara yang sangat memaksa. “Karen, tunggu!”  ternyata itu Tori. Aku begitu terkejut dan senang karena putriku yang berusia delapan belas tahun itu tidak malu terlihat bersama ibunya. Aku menunggu sampai dia datang menyusulku. Kurasa kakinya tidak memijak trotoar yang kami lewati sewaktu kami berjalan pulang ke rumah.

Dia menggoyang-goyangkan amplop di tangannya, yang membuat isinya berbunyi.

“Apa ya kira-kira isinya?”

“Mungkin selembar surat penghargaan dan sehelai cek.”

“Bisakah cek dibingkai?”

Aku tertawa. “Tidak, Tori. Kita akan menguangkan cek itu dan menggunakannya untuk membiayai pendidikanmu. Kita akan membingkai surat penghargaannya.”

Dan begitulah kami membingkai penghargaan itu bersama ijazah SMA-nya. Aku tidak tahu manakah yang dianggapnya lebih berharga.