Serupa tapi tak sama, bedanya influencer dan content creator

Teman intropreneur, pasti uda sering denger istilah influencer dan content creator kan? Tapi apa sih bedanya di antara dua panggilan itu? Kira-kira sama ngak ya? Dan yang terpenting nih, apakah itu juga berpengaruh kepada strategi kita dalam memarketingkan produk/jasa kita online. Kita akan bahas sebuah riset seputar influencer and content creator behaviour agar bisa memahami dengan baik fenomena latar belakang yang ada di dunia sosial media ini untuk memudahkan kita membuat rencana bisnis kita di dunia digital. Yuk cari tahu bedanya influencer dan juga content creator!

https://www.newszii.com/articles/gre-writing-tips

Pada episode kali ini kita akan membahas tentang perbedaan influencer dan creator di era digital media. mungkin di antara teman-teman intropreneur masih bingung sama beda di antara keduanya. Ya secara professional memang gak ada bedanya, tapi perbedaan keduanya lebih dipengaruhi faktor preferensi dan gender lho! Wah kok bisa ya? penasaran? Langsung aja kita mulai pembahasannya!

Menjadi sosial media influencer sama sekali tidak memikili hubungan dengan seberapa banyak followers dan apa pekerjaan real anda. dulu, influencer identik dengan seseorang yang mempunyai banyak followers yang bisa dimanfaatkan untuk menjual apa saja. Sekarang, standar itu telah diubah oleh banyak marketers. Marketers telah menciptakan terminologi baru, sehingga sekarang kita mengenal ada yang disebut makro, mikro, bahkan nano influencer yang mungkin jumlah followersnya hanya seribu. Sekarang, influencer tidak terbatas pada satu genre. Tapi masih ada beberapa di antaranya yang menjadi kategori seperti beauty and lifestyle influencer, real estate influencer, atau pet influencer. Tapi kebanyakan, orang akan berpikir kegiatan seorang influencer di dunia digital dilakukan oleh seorang wanita.

Kebanyakan influencer pria menolak untuk disebut influencer. Meskipun pekerjaan mereka seperti building brand, menggunakan # sponsor dari endorse, promoting product, dan lain-lain memenuhi standar definisi dari influencer. Mereka lebih prefer disebut dengan “digital content creator”  atau “content producer” atau contoh lebih spesifik lagi “gamer”. Alasannya, karena mereka menganggap diri mereka sebagai artis atau seniman, atau seorang konten kreator, atau bahkan karena sesimpel tidak menyukai sebutan influencer saja.

Terkadang sebuah kata bisa mempunyai impact sangat besar ketika diletakan dalam konteks dunia digital. Misalnya gini, coba deh cari tau nama jovi adhiguna, seorang “beauty influencer tapi cowo” nahh..bedakan lagi dengan seorang wanita yang streaming youtube bermain game misalnya kimi hime yang dijuluki “female gamers”

Jadi konotasi influencer yang biasanya wanita, dengan adanya cowo jadi anti-mainstream atau nyeleneh, begitu juga female gamers yang biasanya pria tapi begitu ada wanita terlihat sangat out of the box… misalnya lagi, arief muhammad, seorang infuencers pastinya.. Tapi dia lebih suka dipanggil content creator..begitu juga dengan raditya dika.

Ada studi yang menarik oleh Crystal Abidin, a digital anthropologist meriset internet celebrity pada mereka yang memanggil dirinya content creator, influencer, selebgram ataupun gamers. Ternyata penelitiannya mengatakan bahwa para wanita lebih suka dianggap oleh followers mereka sebagai influencer karena lebih terkesan selebritis alias selebgram dan sangat keberatan jika disamakan dengan kreator.

Sebaliknya, banyak pria yang menolak disebut influencers dan lebih nyaman dipanggil konten kreator karena dari riset itu mereka berpendapat bahwa mereka memproduksi sesuatu dan tak hanya menginfluence. padahal kita tahu influence itu juga memproduksi sesuatu.

Ternyata Crystal Abidin, a digital anthropologist tadi itu membuat kesimpulan bahwa ini karena persepsi diri perempuan dan laki-laki di dunia digital yang berbeda. Ini disupport oleh Brooke Erin Duffy dari Cornell University yang mempelajari behaviour social media and influencers. Seorang selebgram fashion yang perempuan biasanya memperlihatkan produk fashion dengan foto fisik mereka saat menggunakan produk fashion tersebut baru dishare ke instagram, tapi untuk selebgram fashion pria atau konten creator itu lebih banyak menggunakan foto produk flatlay ketimbang foto dirinya yang diupload ke instagram.

Kontennya sama. Yaitu baju yang sama sama mereka kenakan. Hanya perempuan memiliki mindset ingin menjadi bagian dari final foto produk,  seorang pria lebih banyak “memisahkan” diri mereka dari karya final produk dan menganggap diri mereka adalah “kreator”. Atau dengan kata lain pria tertarik kepada things, dan perempuan tertarik lebih kepada people atau koneksi dengan orang..

Menariknya gini, orang populer di instagram disebut influencer atau selebgram, tapi mereka yang populer di YouTube secara official disebut YouTube Creators..Nah, apalagi youtube memiliki youtube creator studio tempat untuk upload video ke YouTube dan ada youtube creator academy…tapi kalau dipikir-pikir wanita yang populer di YouTube dengan konten tutorial makeup yang subscribernya luar biasa besar seperti rachel goddard atau sarah ayu tentu lebih nyaman di panggil beauty influencer dan bukan creators padahal YouTube memakai istilah creators.

Nah jadi jelas ya, influencer dan content creator itu dua-duanya sama-sama memiliki influencer atau pengaruh dan juga keduanya harus bekerja keras untuk membuat konten yang baik.. Hanya perbedaannya adalah masalah gender divide atau persepsi gendernya aja

Lalu hubungannya apa sih dengan seorang yang memiliki onlineshop atau pebisnis online? Ini artinya anda dapat memilih tipe influencer marketing yang disesuaikan dengan target market anda.. Misalnya memberikan pada influencer fashion wanita tentu akan mendapatkan foto baju anda digunakan dengan pose foto yang cantik, tapi memberikan baju itu pada konten creator pria akan dapat berakhir pada jenis foto kreatif yang berbeda.

Jadi strategi marketer atau brand teman intropreneur dalam memasarkan produknya harus dilihat apakah lebih tepat menggunakan influencer atau kreator.

Bagaimana teman intropreneur, sudah mulai jelas tentang latar belakang influencer dan kreator? Sekian episode kali ini. Jika ada kritik, saran, dan pertanyaan bisa langsung aja ke instagram @yosefadjibaskoro atau @sekolahpebisnis. Ditunggu ya! ok kita ketemu di episode selanjutnya dari Igcast Intropreneur. Terima kasih uda stay tune. Yosef pamit, bye-bye.