TERSINGKAP

Sementara kita mengajari anak-anak kita semua hal tentang hidup, mereka pun mengajari kita tentang apa hidup itu.

ANGELA SCHWINDT

Kini rasanya aku sudah bersikap positif. Semula aku tidak selalu begitu. Tinggal di sebuah loteng di rumah saudara ipar di bulan Juli tanpa AC dan hanya punya satu kasur ukuran dobel untuk keluarga yang terdiri atas empat orang bisa membuatmu menampilkan dirimu yang terburuk.

Aku ingat satu malam secara khusus; pada tanggal 12 Juli. Waktu menunjukan pukul 02.00 dan suhu mencapai 40 derajat lebih. Keringat mengucur ke dahiku—dan bukan hanya karena suhu itu lebih panas dari pada sauna di loteng—tetapi karena aku sedang merasa kesal. Sebelumnya di hari itu aku mendapatkan kabar bahwa aku tidak mendapatkan pekerjaan yang kulamar. Itu artinya sudah dalam tiga pekerjaan berturu-turut aku tersisihkan sebagai salah satu dari dua kandidat terakhir—kalah di tahap akhir.

Teman-teman dan keluarga terus saja mengatakan bahwa mereka “memahami” karena mereka pun pernah mengalami yang serupa. Apakah mereka benar-benar paham dan benarkah mereka pernah mengalami yang sama? Pernahkah mereka merasakan karpet yang sedang kita pijak tiba-tiba ditarik? Segala sesuatu yang membuat nyaman: pekerjaan, kesehatan, rumah, mobil, jaminan masa depan—LENYAP!

Kendati begitu gerah, aku menarik selimut untuk menutupi kepalaku dan meringkuk tubuhku membentuk bola. Air mata mulai mengalir di wajahku, membasahi bantalku yang sudah basah. Aku merasa begitu terkucilkan, kendati aku tidur bersama di kasur bersama istriku, putriku yang berusia tiga tahun, dan putraku yang berusia setahun. Aku mulai meninju bantalku dan tiada henti memikirkan apa yang kulakukan selanjutnya.

Aku tak ingat berapa lama aku berbaring dalam posisi itu sambil menyembunyikan air mataku dari keluargaku, tetapi aku ingat saat itu serasa akan selama-lamanya. Aku terus saja dalam posisi itu selama mungkin karena posisi itu membuatku merasa aman dan terjamin dari dunia di sekelilingku. Itulah momen-momen paling gelap dalam hidupku. Sebagai laki-laki, aku tidak bisa membayangkan keadaan yang lebih buruk ketimbang perasaan tidak bisa memenuhi kewajiban, perasaan bahwa bahkan diri sendiri pun tidak bisa kau tanggung, apalagi keluargamu!

Aku meraih bantal lain untuk menutupi kepalaku dan bersembunyi lebih dalam lagi dari “dunia nyata” di luar sana. Pastilah aku sudah jatuh tertidur karena aku terbangun oleh cahaya di celah dua bantal. Aku mendengar burung berceloteh di luar di jendela loteng. Aku lalu berbalik karena masih belum punya tenaga atau stamina emosi untuk menyisihkan selimut.

Lalu kudengar suara tertawa. Kedua anakku sedang bermain saling menggelitik di kasur sebelahku. Mereka berdiri dan mulai melompat-lompat sambil tersenyum dan tertawa-tawa dan tak peduli sebagaimana biasa anak-anak. Atau, bisakah orang dewasa seperti itu? Kedua anak itu meraih dua bantal dan mulai memukuliku dengan bantal dan tidak berhenti sampai aku mengambil bantal juga dan membalasnya. Aku tidak bisa! Aku tidak bisa menghadapi satu hari lagi “di luar sana” sehingga aku berpura-pura masih tidur. Satu pukulan lagi mengenai pinggangku.  “Daddy!” “Daddy!” “Bangunlah!”

Setelah beberapa menit mencoba menyembunyikan perasaan malu, kecewa dan patah semangatku, anak-anakku mulai menarik selimut dan tidak mau berhenti samapi melihat wajahku. Mereka menarik semakin keras dan semakin keras. Aku menarik semakin keras lagi supaya tetap berada dalam perlindungan kepompong kecilku. Aku mendengar lebih banyak lagi suara tawa. Anak-anakku mengira mereka sedang bermain adu-tarik selimut yang seru. Tidakkah mereka tahu bahwa Daddy ini seorang pecundang?

Mereka menarik selimutku sampai semakin keras sampai akhirnya aku melihat cahaya makin erang. Meraka semakin seru terkekeh-kekeh. Akhirnya aku menyerah. Anak-anakku menang, tetapi mereka menang karena berhasil mengingatkan aku bahwa mereka tak peduli apakah aku punya pekerjaan atau tidak, mereka tak peduli seberapa banyak uang yang kumiliki, dan mereka tak peduli di mana kami tidur. Mereka hanya tau ada kegembiraan yang dapat mereka nikmati.

Jika orang ingin belajar bersikap positif, cobalah habiskan waktu bersama ana-anak atau cucu kita. Perhatikanlah bahwa kegembiraan mereka tidak bergantung pada suasana di luar. Perhatikan bagaimana mereka mencintai tanpa keterikatan. Perhatikan betapa lepasnya mereka dan bahkan pengalaman paling remeh dan tak penting pun dapat membuat mereka begitu gembira. Berkat anak-anakku, aku belajar untuk terus bersikap positif bahkan ketika kehidupan sedang membebani.