“Zaman Influencer Sudah Lewat?”
Akhir-akhir ini saya sering dengar klaim ini.
“Sekarang eranya affiliate.
Influencer sudah tidak relevan.”
Logikanya kelihatan sederhana.
Influencer mahal.
Engagement turun.
Affiliate bayar berdasarkan hasil.
Sebagai orang yang bergerak di talent management, mengelola kreator sekaligus affiliator…
saya paham kenapa pemikiran ini muncul.
Tapi jujur, saya juga khawatir.
Karena cara berpikir ini terlalu sederhana.
Dan bisa membuat bisnis berhenti berkembang tanpa sadar.

Perbedaan Fungsi: Menciptakan Demand vs Menutup Demand
Yang sering terlewat bukan soal siapa lebih bagus.
Tapi siapa melakukan apa.
Influencer / KOL tugasnya:
• Menanam awareness
• Membangun trust
• Menciptakan brand recall
Mereka menciptakan kebutuhan.
Atau setidaknya, membuat orang mengingat brand saat butuh.
Affiliate tugasnya:
• Mengonversi demand
• Menutup transaksi
• Scaling penjualan
Mereka efektif ketika demand-nya sudah ada.
Jadi ini bukan soal “mana yang lebih baik”.
Tapi kapan dan untuk tujuan apa masing-masing berfungsi.

Mengapa Hanya Mengandalkan Affiliate Sering Gagal
Saya pernah lihat brand baru berharap affiliate bisa langsung mengangkat penjualan.
Masalahnya satu.
Orang belum kenal brand-nya.
Affiliator itu pintar.
Mereka memilih produk yang sudah terlihat punya potensi closing.
Tanpa awareness, affiliate sering melewatkan produk tersebut.
Dari survei internal yang kami lakukan, ada satu insight menarik.
Saat customer ditanya kenapa membeli lewat affiliate,
yang mereka ingat justru influencer yang pernah merekomendasikan produk itu.
Bukan nama affiliatenya.
Artinya, memori pembelian lebih sering melekat pada KOL.
Affiliate menutup transaksi.
Tapi influencer yang menanam asosiasinya.

Budgeting yang Tepat: Menyebar, Bukan Menghabiskan ke Satu Sisi
Saat punya budget X, godaan terbesar adalah menghabiskan semuanya ke affiliate.
Karena hasilnya terasa lebih cepat.
Padahal strategi yang lebih sehat adalah membagi sesuai fungsi.
Contoh pembagian praktis (bukan aturan baku):
Brand baru
→ 70% influencer / 30% affiliate
Fokus membangun awareness.
Brand sudah dikenal
→ 30% influencer / 70% affiliate
Fokus konversi dan scaling.
Brand dalam fase survival
→ Kombinasikan live shopping, ads, dan affiliate
Tapi tetap sisihkan sebagian kecil untuk branding.

Strategi Praktis: Menggabungkan Influencer & Affiliate
- Bangun awareness dulu lewat kampanye KOL yang relevan.
Pilih kreator yang bisa membangun trust dan asosiasi brand. - Aktifkan affiliate setelah ada sinyal awareness.
Gunakan untuk menangkap konversi dan mengoptimalkan listing. - Gunakan live shopping dan ads sebagai taktik survival saat butuh volume cepat.
- Ukur metrik yang tepat:
Brand recall, assisted conversion, retensi.
Bukan hanya penjualan instan. - Jika affiliate tidak berjalan, cek dulu:
Brand sudah cukup dikenal atau belum?
/foto 13-5

Kesalahan Umum yang Perlu Dihindari
• Menganggap affiliate bisa menggantikan influencer sejak hari pertama.
• Mengukur semuanya hanya dari konversi jangka pendek.
• Menghabiskan seluruh budget ke satu channel.
• Berharap affiliator mempromosikan produk yang tidak punya awareness.

Intisari: Strategi Jangka Pendek vs Jangka Panjang
Affiliate itu bagus untuk survival.
Influencer itu penting untuk longevity.
Influencer menanam.
Affiliate memanen.
Tanpa yang pertama, yang kedua akan kesulitan optimal.
Jadi sebelum memindahkan seluruh budget ke satu sisi, coba refleksi:
Brand kamu sedang ingin bertahan…
atau ingin bertumbuh panjang?
Karena marketing bukan soal channel mana yang sedang tren.
Tapi soal arsitektur yang saling menopang.

#DigitalMarketingStrategy
#AffiliateMarketing
#InfluencerMarketing
#BrandBuilding
#CreatorEconomy

YouTube ► https://www.youtube.com/@yosefabas
Instagram ► https://www.instagram.com/yosefabas_/
Akses eCourse dan Seminar ►http://sekolahpebisnis.id
